Minggu, 24 Maret 2013

Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan

Cuplikan tulisan Karen Armstong pada bukunya, Masa Depan Tuhan bab yang diberi judul Iman, halaman 171-190. Sebagai tambahan wawasan, betapa sangatlah tidak mudah untuk mendapatkan padanan kata yang tepat untuk menerjemahkan satu kata dari bahasa yang berbeda. Apalagi untuk menggambarkan pesan yang terkandung dalam suatu kata, dan apabila kata yang hendak diterjemahkan ini menyangkut pesan dari Tuhan, yang diterjemahkan secara kurang tepat, maka dampaknya sungguh langsung mewujud dalam kehidupan.

Kata yang diterjemahkan menjadi "iman" dalam Perjanjian Baru adalah kata bahasa Yunani pistis (bentuk verbal : pisteuo), yang berarti "kepercayaan; kesetiaan; keterlibatan; komitmen" (Ini telah dijelajahi secara luas oleh Wilfred Cantwel Smith dalan Belief and History serta Faith and Belief). Yesus tidak meminta orang untuk "percaya" pada keilahiannya, karena dia tidak membuat klaim yang seperti itu. Dia meminta komitmen. Dia ingin murid-murid yang akan terlibat dengan misinya, memberikan semua yang mereka miliki kepada orang miskin, memberi makan orang yang lapar, menolak untuk terhalangi oleh ikatan keluarga, meninggalkan kesombongan mereka, mengesampingkan kepentingan diri dan rasa berhak mereka, hidup seperti burung-burung di udara dan bunga bakung di padang rumput, dan percaya kepada Allah yang adalah ayah mereka.

Ketika Perjanjian Baru diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Latin oleh St Jerome (kl. 342-420), pistis menjadi fides ("kesetiaan"). Fides tidak memiliki bentuk verbal, sehingga untuk pisteuo, Jerome menggunakan kata kerja latin credo, sebuah kata yang berasal dari cor do ; "aku berikan hatiku". Dia tidak terpikir untuk mengggunakan kata opinor ("aku memegang pendapat"). Ketika Alkitab diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, credo dan pisteuo menjadi "I believe" dalam versi King James (1611). Tetapi kata "belief" sejak itu telah berubah makna. Di Inggris abad pertengahan, bileven berarti"menghargai; mementingkan; menyayangi". Jadi "belief" aslinya berarti "kesetiaan pada satu orang yang kepadanya seseorang terikat dalam janji atau tugas"

Sebagaimana yang dijelaskan Theodore, Uskup dari Mopsuestia di Kilikia dari 392-428, kepada katekumennya : 
Ketika engkau mengatakan "pisteuo" ("aku mengikatkan diriku") di hadapan Tuhan, engkau menunjukkan bahwa dirimu akan tetap teguh bersamanya, bahwa engkau tidak dapat memisahkan diri darinya dan bahwa engkau akan memandangnya lebih tinggi dari apapun yang lain dan hidup dengannya serta membawa dirimu dalam cara yang selaras dengan perintah-Nya (Theodore, Ad Baptizados, Homily 13: 14, dalam Wilfred Cantwell Smith, Faith and Belief, h. 25)
"Kepercayaan" (belief) dalam pengertian modern kita tidak masuk didalamnya. Meskipun Theodore adalah pendukung terkemuka penafsiran harfiah yang dipraktikkan di Antiokha, dia tidak meminta kepada para kandidatnya untuk "memercayai" doktrin "misterius" manapun. Iman adalah murni masalah komitmen dan hidup praktis.

Ini juga berlaku pada monoteisme ketiga, yang baru akan muncul pada tahun awal abad ke-7. Pada 610 M, Muhammad ibn Abdullah (560-632), seorang pedagang dari Makkah, kota komersial yang ramai di HIjaz Arab, mulai menerima wahyu yang diyakini berasal dari Allahnya orang Yahudi dan Kristen. Pesan-pesan Illahi ini akhirnya dikumpulkan bersama dalam kitab suci yang dikenal dengan nama Al Qur'an, "Bacaan", dan teks ini dirampungkan hanya dua puluh tahun setelah wafatnya Nabi. Agama Al Qur'an akan dikenal sebagai Islam, sebuah kata yang berarti "penyerahan diri" kepada Allah, dan didasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang sama seperti kedua tradisi monoteistik lain.

Al Qur'an tidak memiliki ketertarikan pada soal "keyakinan"; bahkan konsep ini sangat asing bagi Islam (Wilfred Cantwell Smith, Faith and Belief, hh 37-47). Spekulasi teologis yang menghasilkan perumusan doktrin-doktrin yang muskil ditolak sebagai zhannah, prasangka sekehendak hati tentang hal-hal yang yang tak dapat dibuktikan siapapun dengan satu atau lain cara, tetapi membuat orang suka bertengkar dan bersikap sektarian secara bodoh (Al Qur'an 3 : 64-68; 10 :36; 41: 23). Seperti semua agama atau philosophia lain, Islam adalah cara hidup (din). Pesan fundamental Al Qur'an ini bukanlah sebuah doktrin, melainkan seruan untuk mengungkapkan kasih sayang dalam amal perbuatan : menumpuk kekayaan tidaklah baik dan yang baik adalah berbagi kekayaan secara merata dan menciptakan masyarakat yang adil dimana orang miskin dan lemah diperlakukan dengan hormat (Al Qur'an  92: 18; 9:103; 63 :9; 102 :1)

 Lima "pilar" Islam adalah miqra , panggilan untuk kegiatan khusus : shalat, puasa, bersedekah, dan haji. Hal ini juga berlaku untuk "pilar" yang pertama, yakni pernyataan iman : "aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan-NYA." Ini bukan sebuah "kredo" dalam pengertian barat modern; seorang muslim yang mengucapkan syahadat ini "bersaksi' dalam hidupnya dan dalam setiap tindakannya bahwa prioritas utamanya adalah Allah dan bahwa tidak ada "allah-allah" lain-termasuk politik, materi, ekonomi, dan ambisi pribadi-yang dapat lebih diutamakan komitmennya kepada Allah semata. Dalam Al Qur'an iman adalah perbuatan yang dilakukan orang : mereka berbagi kekayaan mereka, mengerjakan "amal yang adil" (shalihat), dan menundukkan tubuh mereka ke tanah melalui tindakan kenosis yang menipiskan ego (shalat). (Al Qur'an 90 : 13-20)

Dalam Qur'an, orang yang menentang Islam ketika Muhammad mulai berdakwah di Makkah disebut kafirun.  Terjemahannya biasanya sangat menyesatkan : kata tersebut tidak berarti "orang yang tidak percaya" atau "orang yang tidak setia" ; akar kata KFR berarti "terang terangan tidak tahu berterimakasih", penolakan yang angkuh dan tidak sopan terhadap sesuatu yang ditawarkan dengan sangat baik. (Izutsu, Ethico-Religious Concepts in Th Qur'an, hh 127-57). Mereka dikutuk bukan karena "tidak percaya" melainkan karena sikap kasar dan ofensif mereka kepada orang lain, keangkuhan mereka, merasa diri penting, sovinisme dan ketidakmampuan untuk menerima kritik. (Al Qur'an 7:75-6; 39 :59; 31:17-18; 23: 45-7; 38: 71-5). Kafirun tidak pernah memberikan pertimbangan serius pada sebuah ide yang baru bagi mereka, karena mereka pikir mereka sudah tahu segalanya. Oleh karena itu mereka mengejek Al Qur'an, merebut setiap kesempatan untuk menampilkan kepandaian mereka sendiri (Al Qur'an 15: 94-6; 21:36; 18:108; 40:4-5; 68: 51; 22: 8-9). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar