Jumat, 11 Mei 2012

Kebo Iwa. Siapakah Dia?

Siang yang terik, seperti hari-hari kemarin kupacu mobil menuju kota Klungkung. Dari daerah Tohpati, tadinya aku masih bimbang, apakah mengambil jalan melalui by pass Ida Bagus Mantra atau melewati dalam kota, namun akhirnya kuputuskan untuk lewat Batubulan-Celuk-Sukawati-Gianyar-Klungkung, sekalian melihat-lihat potensi outlet di sekitar sini. 

Patung-patung, Pura, Pasar Sukawati, ibu-ibu yang membawa canang untuk sejaji, semua kulewati begitu saja, tak ada yang menarik perhatianku. Sepanjang perjalanan kepalaku masih disibukkan oleh target dan route yang akan aku lewati nanti. Aku agak terlambat ke lapangan karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor, "aku harus cepat-cepat agar semua bisa selesai hari ini", pikirku. Hingga akhirnya aku sampai di sebuah simpang jalan yang cukup besar, kubaca petunjuk jalan di papan warna hijau, kuambil arah "Klungkung", ke kanan. Baru kali ini aku melewati jalan ini, tiba-tiba mataku terpesona pada sebuah gapura denga patung besar di tengah pembatas jalan. Biasanya patung-patung di Bali adalah perwujudan dari Dewa-Dewi atau tokoh khayalan, tapi ini berpakaian a'la Gajah Mada dan ada prasasti di bawahnya, tak terlalu jelas, hanya terbaca Kebo Iwa dan sekilas sepertinya tertulis bahwa tokoh ini berjuang untuk kerajaan di Bali. Aku bertanya tanya, nama itu terasa tidak asing bagiku, tapi aku tak ingat siapa dia. Demi mencari jawaban atas penasaranku, aku sms temanku yang memang penggemar sejarah dan pewayangan, tapi ternyata dia pun gak tahu persis.  Siapa Kebo Iwa? Kenapa aku merasa pernah tahu siapa dia? Apakah dia anak buahnya Gajah Mada ya? Gaya berpakaiannya mirip. Duh, perjalanan hari itu diwarnai penasaran jadinya.


Malam harinya, aku coba upload foto patung Kebo Iwa ke akun jejaring sosialku, "Namanya Kebo Iwa, ada yang tahu sejarahnya?", "Itu raksasa yang dipendem di kawah Gunung Agung karena makan orang-orang. Dibuat patung untuk pemujaan, dikasih sesaji, biar gak marah-marah, karena kalo marah dia meronta-ronta hingga Gunung Agung meletus, aku agak-agak lupa Gunung apa tepatnya, yang jelas aku baca di majalah waktu SD dulu" begitu komentar Sigit. Deni berkomentar lain, katanya, " Udah ada di FTV, diperankan Derry Drajad, Kebo Iwa adalah Patih Bali yang membentengi kerajaan Bali dari serangan Majapahit di zaman Gajah Mada. Dia ini punya ilmu kebal". Lalu komentar ketiga dari Mbak Ni'mah tanteku, "Kebo Iwa adalah tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh yang sangat besar. Konon Kebo Iwa menggunakan kuku kukunya yang tajam dan kuat untuk memahat dinding batu cadas sehingga terbentuk sebuah candi, yang diselesaikan dalam sehari semalam. Namanya Candi Gunung Kawi.". Aku semakin bingung, dari 6 orang yang berkomentar, 3 orang mengaku tidak tahu dan 3 orang lagi beda semua penjelasannya. Teman-teman di kantor yang notabene orang Bali pun tak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti siapa Kebo Iwa. "Gatau deh mbak, kayaknya ya pahlawan yang melawan Belanda gitu. Kalau setahuku sih, di Jalan Kebo Iwa ada warung ayam Betutu Rama-nya Pak Yota, hehehe" Kata Ni Luh sambil bercanda. Duh, tambah jauh deh, masak iya sih jaman belanda orangnya masih pakai pakaian a'la Majapahit gitu. Ah, sudahlah. Pikirku. Rasa penasaran itu aku simpan, setiap kali melewati jalan itu, aku melihat saja, sambil berpikir, siapa dia.

Sekitar sebulan kemudian, aku jalan-jalan ke toko buku lokal yang menjual buku-buku karangan pengarang lokal Bali, perhatianku tertuju pada sebuah buku tipis "Sejarah Bali". Segera aku masukkan ke keranjang belanjaanku. Malam berikutnya, baru aku sempat membaca buku tersebut. Sebenarnya aku sudah agak lupa dengan penasaranku pada Kebo Iwa, namun membaca sekilas buku aku melihat tertulis nama Kebo Iwa. Rasa penasaranku bangkit lagi, segera aku baca buku tersebut, "Kebo Iwa adalah seorang Patih Muda di Blah batuh di Kerajaan Bedahulu yang hidup sezaman dengan Patih Gajah Mada dari Majapahit sekitar tahun 1300-an Masehi.  Perawakannya tinggi kekar dan kebal, dia ahli dalam hal bangunan. Konon Kerajaan Bedahulu ini amatlah kuat dan tidak mau tunduk dibawah bendera Majapahit, sehingga diutuslah Patih Gajah Mada untuk bersiasat agar negara itu mau tunduk, karena bila di jalankan semata-mata dengan perang terbuka tidak yakin Majapahit bisa memetik kemenangan terhadap Kerajaan Bedahulu yang sangat  kuat dan banyak orang sakti mandraguna, termasuk Pati Muda Kebo Iwa. Maka dijalankanlah siasat, Patih Gajah Mada meminta Kebo Iwa turut serta ke Majapahit, disana dia akan dinikahkan dengan seorang putri cantik. Kebo Iwa dengan ijin dari Raja Bedahulu pun berangkat ke Majapahit, sesampai disana benarlah bahwa memang telah ada seorang putri cantik yang menunggunya. Putri itu meminta Kebo Iwa membuatkan sumur untuk mereka bertamasya seusai pesta pernikahan nantinya. Alkisah, dengan tulus hati tanpa syakwasangka dibuatlah sumur itu dengan baik oleh Kebo Iwa. Namun alangkah malanganya, ternyata ketika sumur itu sudah cukup dalam datanglah berbondong-bondong orang-orang Majapahit melemparinya dengan batu dan menimbun Kebo Iwa didalam sumur. Namun bukan Kebo Iwa namanya bila tidak sakti, Kebo Iwa tidak mati di dalam sumur, dia terkejut, batu-batuan yang berjatuhan kedalam sumur dilemparkan kembali keatas, sehingga justru banyak orang Majapahit yang meninggal. Akhirnya Kebo Iwa tersadar bahwa ia terkena tipu muslihat Gajah Mada yang menghendaki kematiannya. Karena merasa sudah terperangkap, Kebo Iwa menyerahkan jiwanya, ia justru memberitahu Gajah Mada bahwa dia tidak akan mati oleh segala macam senjata, ia hanya bisa dibunuh dengan kapur tohor dan air jeruk. Sesudah mengetahui hal tersebut segeralah Gajah Mada mencari Kapur Tohor dan air jeruk untuk menimbun Kebo Iwa. Maka meninggallah Kebo Iwa."

Aha, aku tahu sekarang, gambaran itu segera muncul dalam pikiranku. Kenapa aku penasaran sekali, aku ingat aku pernah membaca cergam (=cerita bergambar) tentang Kebo Iwa, tapi aku hanya ingat tentang seorang sakti mandraguna yang ditimbun didalam sumur hasil dia menggali sendiri tapi tidak bisa mati, dia akhirnya tewas setelah ditimbun dengan batu gamping. Majalah Ananda, 30 tahun yang lalu. hmm..

Dulu hanya sebatas itu yang aku tahu, tak ada baik buruk, tak ada benar salah. Dulu yang aku tahu Gajah Mada adalah negarawan besar tokoh baik, protagonis dalam sejarah. Dan Kebo Iwa adalah tokoh antagonis, raksasa yang ditimbun karena jahat. Tapi sekarang, membaca sejarah tentang Kebo Iwa, semua menjadi absurd, benar salah, tokoh baik tokoh jahat dalam sejarah bisa jadi sangatlah subyektif, tergantung dari sudut mana yang berbicara. Kebo Iwa adalah pahlawan bagi Kerajaan Bedahulu di Bali dan Gajah Mada adalah pahlawan bagi Kerajaan Majapahit di Jawa. Tak mudah memang membicarakan sejarah tanpa menimbulkan kontroversi. Wallahu a'lam.

Moral cerita :
Setiap orang bisa menilai orang lain benar atau salah, baik atau buruk, tergantung dari sudut pandang mana orang tersebut menilai. (Hiks..ketika aku menulis ini ada yang ngedumel di seberang sana, thanks ya..)

Jumat, 06 April 2012

Once Upon a Time in Bali

Siang ini terik matahari begitu membakar, AC di mobil serasa tak berfungsi, namun semua itu tak menyurutkan niat untuk keluar kota sekedar refreshing, tujuan telah di tentukan, Istana Taman Ujung, daerah Karangasem, satu wilayah ujung timur pulau Bali. Keluar dari Denpasar melewati daerah Sanur, memasuki jalan by pass, seperti yang biasa kulewati bila aku akan ke daerah Klungkung. Tak lepas aku memandang sebelah kananku, lautan menghampar ditingkahi oleh dusun-dusun dan pura-pura kecil, Bali memang sungguh eksotis. Berbagai nama pantai kami lewati, aku tak sanggup menghafalnya satu persatu. Setelah hampir dua jam barulah masuk daerah Candidasa, "Masih terlalu siang untuk ke pantai, kita ke Taman Ujung dulu" kataku.


Memasuki Karangasem dengan kotanya Amlapura, tak terasa lagi hiruk pikuk dan sesak seperti di Denpasar, jalanan lumayan membingungkan karena kami melewati jalan memotong melalui kampung. Sempat kesasar beberapa kali walaupun sudah dipandu dengan GPS canggih, namun akhirnya perjuangan mulai membuahkan hasil. Bendera di GPS terlihat, tinggal 4km lagi. Beberapa menit kemudian tampak satu papan kayu yang tak begitu terawat tertulis "Taman Ujung 500 M". Sampai juga. Pemandangan pertama di sebelah kiri jalan terlihat pilar pilar putih, tapi pintu gerbang di depannya tertutup, kami meneruskan jalan, setelah satu kelokan kecil,  mataku terbelalak, "Masya Allah, Allahu Akbar, indah sekali", Di sebelah kiri jalan terlihat sebuah hamparan taman yang rapi, bangunan istana yang sederhana dengan latar belakang gunung Agung, dan di sebelah kanan adalah laut yang menghampar, satu harmoni, keselarasan yang menentramkan. Istana Impian.
Tak sampai 5 menit, sampailah ke pintu utama. Diawali dengan satu jembatan menuju kompleks istana, segera satu gambaran indah terbayang, sangat indah. Hamparan halaman berumput yang rapih, dan kolam di seputar istana, segerombolan merak betina, dan beberapa ekor angsa menyambut kami. Hilang semua penat yang semula aku rasakan setelah menempuh sekitar dua setengah jam perjalanan. Dengan penuh semangat aku telusuri boulevard di sepanjang taman menuju istana utama. 

Istana utama adalah sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, terdiri dari empat kamar, aku membaca sejarah yang tertulis disitu. Dibangun oleh Raja Karangasem terakhir I Gusti Bagus Jelantik pada tahun 1919. Letusan Gunung Agung di tahun 1963 dan gempa bumi tahun 1979 pernah menghancurkan istana ini. Sebuah bangunan yang menurutku seperti istana yang terapung diatas air, dibangun oleh Raja untuk menyambut tamu-tamu dari kerajaan lain yang berkunjung ke Karangasem, namun juga difungsikan sebagai tempat rekreasi keluarga kerajaan. Dari foto yang terlihat, nampak bahwa Raja memiliki putra putri yang cukup banyak. Dan di satu ruangan lagi aku melihat foto anggota kerajaan yang menjabat duta besar setelah republik ini merdeka. Kemanakan mereka saat ini ya? satu tanya yang tak terlalu ingin kucari jawabnya.


Aku lanjutkan langkahku menuju ke atas, satu bangunan yang terdiri dari pilar-pilar seperti lazimnya bangunan di eropa, dari sini mataku bebas menikmati setiap sudut keindahan landskap istana, lautan yang menghampar, aku membayangkan, pada jaman itu pasti istana ini penuh dengan canda tawa. Dan sekarang yang terlihat adalah kesunyian belaka. Tergambarlah satu kenyataan hidup, selalu akan begini, satu bangunan pada akhirnya adalah sebagai saksi kisah panjang perjalanan manusia dan bahkan jatuh bangun satu peradaban terekam dalam bangunan-bangunan bersejarah. 


Satu pelajaran aku petik hari ini, semegah apapun istana yang dimiliki, sebahagia apapun penghuninya, semua perkara di dunia, tidaklah abadi. Astaghfirullah.

Rabu, 07 Maret 2012

Nice Penjor !!!

Kali ini menginjakkan kaki di bandara Internasional Ngurah Rai terasa begitu hampa, masih antara kenyataan dan khayalan. Melewati jalanan di kota Denpasar aku masih belum percaya, aku akan tinggal disini, entah untuk berapa tahun lamanya. Nekad!. Gelap, aku tak punya bayangan sama sekali apa yang akan aku lakukan untuk melewati hari-hariku nanti. Gila gila gila, itu yang ada di otakku, meskipun aku mengenal kota ini, namun aku kenal sebagai tempat wisata saja, bukan tempat aku bekerja. Biasanya disini putar-putar kota, tinggal naik bus pariwisata. Dan sekarang aku harus menghafalkan semua jalanan yang ada. 

Hari-hari pertama, fasilitas yang aku butuhkan belum lengkap, menambah berat isi kepalaku. Belum ada kendaraan, ke kantor mesti harus menunggu jemputan teman. Belum ada laptop, jadi kalo malam hanya bengong ndengerin suara jengkerik. Belum lagi melihat kenyataan kondisi tim dan area yang aku pimpin, benar-benar membutuhkan konsentrasi tinggi dan kecerdasan serta kecermatan tersendiri. Seminggu pertama, aku konsentrasi memikirkan tempat tinggal. Sedih rasanya, benar-benar terasa terasing. Beruntung, dibantu teman-teman dari kantor akhirnya aku menemukan tempat tinggal yang lumayan, dengan ibu kost dan tetangga kost yang baik. Selalu ada pertolongan disaat kita membutuhkan, percaya saja.

Satu persatu bisa teratasi, semua tak lepas dari support penuh dari para senior dan team. Akhirnya, aku mulai enjoy dengan keadaan. Walaupun tentu saja rasa kangen pada anak-anak tetap saja acapkali mendera. Namun dengan seluruh kesibukan semua bisa teratasi. Akhirnya aku bisa menikmati setiap jengkal aspal yang aku lewati ketika aku melakukan kunjungan ke lapangan dan mulailah aku menemukan keindahan-keindahan Bali yang selama beberapa hari ini tertutup beban pikiran. Pura, penjor, bangunan-bangunan banjar, bapak-bapak pecalang, menjadi suatu hal yang akrab.

Beruntung aku datang beberapa hari setelah perayaan Galungan dan Kuningan, sehingga masih bisa melihat "sisa-sisa" perayaannya, berupa Penjor yang berdiri megah dimana-mana. Begitu membekas dalam ingatanku, entah kenapa, Penjor yang berjajar di sepanjang jalanan Banjar Dalung, terlihat asri dan hangat. Lalu ketika burung-burung mengerumuni penjor untuk memakan padi yang dirangkai hingga ujungnya,  terasa begitu mencerminkan bahwa negri ini gemah ripah loh jinawi. Bali, aku harus menempa diriku, aku harus berdiri tegak walau akarku tak kuat disini, seperti penjor itu. ^_^

Jumat, 10 Februari 2012

Bapak


Sudah lewat tengah malam ketika aku terjaga dari tidurku, aku ingat terakhir tadi sore aku makan bersama anak-anak di ruang depan, lalu rasa kantuk yang hebat menyergapku dan akupun tertidur. Aku lihat Bapak, duduk di sebelahku waktu aku terbangun, "Bapak belum sare?" Tanyaku, beliau diam, dan akupun melanjutkan kata-kataku, "Oh, Bapak sekalian nunggu sholat subuh ya Pak?" Entah, beliau menjawab atau tidak, yang jelas perasaanku mengatakan, Bapak membenarkan kalimatku, ya, beliau belum tidur karena sekalian menunggu datangnya waktu sholat subuh. Lalu aku berdiri, aku bangunkan anakku yang tertidur sembarangan diatas karpet, kasihan dia kelelahan belajar, kusuruh pindah tidur di kasur, "Nak, pindah atas sini. Ibu mau disitu, mau nulis.." Anakku terbangun lalu pindah. 

Malam terasa gerah sekali, sudah beberapa hari tak turun hujan, sepanjang siang mataharipun bersinar sangat terik. Siangpun terasa jauh lebih lama dari biasanya, hingga mungkin bumi menyimpan begitu banyak panas, sampai-sampai tengah malam beginipun masih juga terasa panas. Setelah membangunkan anakku, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu. Air wudlu yang dingin menyiram kesadaranku, aku terhenyak, aku tadi ketemu Bapak kan? Masya Allah, bukannya Bapak sudah seda, tapi tadi itu....

Aku sadar, tadi aku bermimpi, tapi kenapa batas antara mimpi dan bangunku tak begitu jelas? Ah, sudahlah, segera kutuntaskan wudlu ku, dan mengawali sholat malam, aku selalu ingat, ini yang selalu dicontohkan Bapak dahulu, tak pernah tertinggal satu malampun untuk bersujud di tengah malam. Bapak, kukirim serangkai doa untuk Bapak disana. 

Bapak, aku akan selalu ingat, semenjak aku kecil meskipun Bapak lebih banyak diam dan sangat jarang memberikan nasehatnya secara lisan padaku, namun Bapak selalu memberikan contoh bagaimana menjalani hidup, kerja keras, pantang menyerah dan selalu optimis. Bangun pagi-pagi dan bertahajjud sepanjang malam. Bapak, aku akan ingat. Terimakasih Bapak, selamat menjalani episode Bapak di alam selanjutnya, semoga Allah memberkati Bapak disana."Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa'aafihii wa'fu 'anhu" Amin. 

Kamis, 09 Februari 2012

Risalah Air Mata


Bola mata tanpa air mata  seperti danau tanpa air,  danau tanpa air tak lebih hanyalah hamparan tanah yang kehilangan keindahannya. Airmata adalah salah satu bukti kesempurnaan penciptaan Tuhan atas anggota tubuh kita. Karena air mata tak hanya diciptakan sebagai tanda sedih , air mata memiliki peran-perannya yang lain.

Bila bola mata tercipta tanpa airmata, maka bola mata akan kering , bila kering pastinya akan susah untuk sekedar berkedip. Ini disebut airmata basal, dimana airmata berfungsi untuk melembabkan  mata (melindungi kornea),  dan menyediakan oksigen untuk mata, serta masih banyak funsi-fungsi lainnya. Bila bola mata terkena debu, terkena asap, atau uap bawang, airmata akan segera keluar, ini disebut sebagai air mata reflex. Dimana airmata secara reflex akan melindungi bolamata bila ada benda asing masuk, dengan cara membanjiri kotoran tersebut agar keluar dari bola mata. Yang terakhir adalah air mata emosi, yaitu airmata yang keluar akibat perubahan emosi dalam diri manusia, seperti sedih, menangis atau bahkan tertawa.

Setiap jenis airmata yang keluar tsb, konon kata para ahli memiliki komposisi hormon dan bahan kimia yang berbeda-beda. Diantara ketiga jenis airmata tersebut, airmata emosi memiliki kadar hormon prolaktin yang lebih tinggi yang membantu meredakan perasaan. Inilah yang menyebabkan kita menjadi lebih tenang setelah menangis. Jika airmata karena sedih saja mampu menenangkan perasaan, bagaimanakah dengan airmata yang mengalir karena perasaan yang tersentuh ajaran-ajaran Allah, tentunya akan menjadikan ketenangan bathin yang luar biasa. 

Senin, 06 Februari 2012

Path of Life


Pilihan-pilihan yang ditempuh dalam hidup selalu membawa konsekuensinya masing-masing. Yang dibutuhkan hanyalah satu keberanian untuk memilih dan menanggung resiko akibat pilihan hidup tersebut. Manusia tak pernah memiliki hak untuk memaksa orang lain memutuskan pilihan seperti yang dia inginkan, karena itu tak sejalan dengan Tuhan. Tuhan yang Maha Perkasa, Maha Kuasa pun tak pernah memaksa hambaNYA untuk memilih satu jalan hidup saja. DIA memberikan tawaran alternatif kehidupan dengan segala akibatnya yang merupakan pasti alam.

Dalam dudukku, aku melihat sekilas-sekilas wajah orang-orang yang pernah ada (pernah aku pilih untuk ada, lalu aku pilih untuk aku tinggalkan). Melihat mereka sedang menjalani konsekuensi dari pilihan hidupnya, ada yang membuatku miris, karena dengan gagah berani memilih jalan tanpa obor penerang, hidupnya carut cengkarut, penuh dikuasai amarah, hawa nafsu, luka, benci dan dendam. Ada yang membuatku kagum karena memilih mengabaikan hidupnya sendiri,  untuk terluka demi cinta yang lebih agung, memilih jalan kesunyian. Ada juga yang sedang kebingungan berada dalam persimpangan, dan dia tak mampu menentukan pilihannya. Hidupnya penuh dengan gundah gulana, memendam setiap cita-cita dan menyembunyikan dalam-dalam. Gamang dalam setiap keputusan, hingga yang ada adalah jiwanya berada dalam kelelahan. Dia tak sadar bahwa dengan kegamangannya pada pilihannya itu bukan saja melelahkan dirinya sendiri namun juga orang-orang disekitarnya. Karena dengan tidak segeranya dia melangkah, orang lain pun menjadi tertahan langkahnya, tertutup jalan karena dia tak kunjung beranjak.

Lalu kulihat diriku sendiri, aku mendapati diriku hanyut dalam suatu gelombang, aku tahu arah mana yang aku pilih untuk tuju, namun bekalku belum cukup untuk menantang arus kehidupan. Dipermainkan riak dan gelombang, seharusnya aku tahu, ini hanyalah tipuan-tipuan, tapi kebodohanku membuat aku hanyut. Tak seharusnya aku menangis dan ataupun mengeluh, karena itu berarti aku semakin larut dalam permainan ini. Aku tahu, yang harus aku lakukan adalah bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan sungai yang mengalirkan air kebodohan dan tipuan ini. Namun, aku terlalu lemah dan manja. Aku butuh pertolongan. Jelaslah sudah, pertolongan hanya bisa aku dapatkan dari orang yang benar-benar kuat, sehingga bisa menarik aku keluar dari pusaran ini. Tak mungkin aku berharap dari orang yang kebingungan, yang bahkan menentukan pilihannya sendiripun tak mampu, manalah mungkin yang seperti itu menolongku. Dia akan terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri yang kebingungan memilih ketika melewati persimpangannya. Dan akupun tak bisa memaksanya memilih jalan dipersimpangannya agar segera bisa menolong aku. Tidak ada pemaksaan. Semua adalah pilihan. 

Minggu, 05 Februari 2012

Sentilan Kecil Guruh Sukarno Putra untuk Kita

Sejarah bagi bangsa ini, saat ini, adalah bagaikan sebentuk cerita purbakala yang sudah hampir musnah terlindas jaman. Anak bangsa sudah tak peduli lagi, darimanakah dia berasal, bagaimanakah dia sampai pada kehidupan sekarang ini. Sejarah berada dalam titik terendah keberadaannya. Generasi bangsa amat sangat apatis pada nilai-nilai kesejarahan bangsanya. Aku juga ada didalamnya, aku dibesarkan dalam zaman orde baru, yang serba teratur, manut dan tidak kritis. Sejarah adalah indoktrinasi diktat, hafalan-hafalan atas tanggal kejadian, peristiwa yang menurutku kuno, dan sejarah itu membosankan. Aku (dulu) tak pernah tertarik pada sejarah, aku tak melihat urgensi dari belajar sejarah, sejarah itu tidak keren (bila dibanding pelajaran fisika, matematika atau kimia), sejarah itu menakutkan. Ya, menakutkan, karena dimana aku belajar tentang sejarah disitulah aku menghafalkan tanggal-tanggal terjadinya perang, terjadinya genocide, pembantaian. Sejarah adalah tanggal-tanggal, kapan terjadinya perang bubat, perang paregreg, perang diponegoro, perang puputan, dan yang paling seram adalah setiap anak muda (=siswa) di jaman itu dipastikan harus menonton film Pemberantasan G 30 S/PKI yang notabene isinya adalah sadisme dan darah. Setidaknya itulah yang aku ingat tentang film tersebut. Aku tak pernah belajar sejarah untuk mempelajari karakter manusia ataupun untuk mengenali bangsaku sendiri, dan aku rasa itu terjadi juga pada generasi setelahku, termasuk anak-anakku. 

Dan sejarah menemukan ironinya, ketika aku tahu Presiden RI yang pertama adalah Sukarno, namun untuk menyebutkan namanya rasanya aku enggan. Karena di alam bawah sadarku tersimpan memori ketakutan bahwa, menyebut dirinya adalah sesuatu yang "terlarang", karena beliau adalah "terlibat" dalam satu tuduhan. Entah, begitu dalam memori tentang itu tertanam. Aku ingat betul, di perpustakaan seorang kerabat berjajar buku-buku karangan beliau, seperti, Sarinah, Di Bawah Bendera Revolusi dan buku-buku lain, namun lagi-lagi seakan-akan ada yang melarang aku membukanya. Obrolan-obralan mengenai pemikiran beliau oleh para kerabat pun aku jauhi. Sungguh pikiran bawah sadar yang diindoktrinasikan padaku teramat kuat. Akhirnya aku sebatas tahu, ya, Sukarno adalah Bapak Proklamator dan Presiden pertama RI. Sudah, hanya itu.

Namun sebuah talkshow yang aku jumpai dengan tidak sengaja di suatu sore di Yogyakarta, membangunkan kesadaranku secara penuh, bahwa ternyata aku tak pernah mengenal negaraku, bangsaku, dan tak pernah menghargai mereka yang berjuang memerdekakan bangsa ini. Aku malu. Sore itu, aku dapati  Mas Guruh Sukarno Putra menyampaikan pemikiran-pemikirannya dan tentu saja pemikiran-pemikiran ayahandanya. Awalnya tak aku ikuti dengan serius, ah biasa, pikirku, tentang Hari Lahir Pancasila, urgensi Pendidikan Karakter untuk generasi muda bangsa ini, lunturnya nilai-nilai Pancasila yang banyak dikhianati oleh bangsa ini sendiri, dan hal-hal lain yang aku sudah bosan. Hingga akhirnya saat pembawa acara meminta beliau berpesan untuk audience, beliau menyampaikan sesuatu yang sederhana, namun maknanya sangat dalam bagi bangsa ini, beliau menyampaikan bahwa penulisan ejaan nama bagi ayahandanya adalah satu kesalahan dimana orang bahkan pemerintah menuliskan dengan kata Soekarno, padahal yang benar adalah Sukarno, karena ejaan Oe adalah serapan dari bahasa belanda dan bila diucapkan dalam bahasa aslinya maka nama Bapak Sukarno menjadi berubah pelafalannya. Gugatan kecil lain adalah, bahwa penulisan nama Sukarno adalah selalu berdiri sendiri, termasuk bila harus mengikuti nama anak-anak beliau, Guruh Sukarno Putra, Sukmawati Sukarno Putri, dan seterusnya, jadi bukan Guruh Sukarnoputra ataupun Sukmawati Sukarnoputri. Karena bila dibiarkan, lama-lama menjadi parah, sebagai contoh, karena begitu seringnya nama Bung Karno dirangkai dengan nama Bung Hatta sebagai Sukarno-Hatta, apalagi sekarang digunakan untuk memberi nama bandara internasional di Jakarta, maka salah kaprah semakin parah, bandara tersebut oleh sebagian orang disebut sebagai singkatan, yakni menjadi Bandara Soetta. Sebagai generasi penerus Bung Karno, Mas Guruh merasa perlu protes, karena dengan adanya singkatan itu, semakin banyak generasi muda yang tak mengenal siapa Sukarno, siapa Hatta, banyak yang menganggap Sukarno Hatta adalah nama satu orang, semacam, Sukarno bin Hatta. Kasus ini bukan hanya satu paranoid atau kekhawatiran beliau saja, namun memang sudah terbukti, yakni manakala beliau bertanya pada salahsatu anak muda murid beliau, "Kamu tahu nama bapakku siapa?" "Tahu Pak, ayah bapak adalah Sukarno Hatta". Aku tertawa mendengar cerita beliau, tapi sungguh miris, betapa kesalahan itu bila tak diluruskan dari sekarang, dan bila dibiarkan terus, maka lama-kelamaan bangsa ini akan menjadi kabur sejarah kebangsaannya.

Lalu kritik lain adalah penulisan Yogya yang akhir-akhir ini banyak ditulis sebagai Jogja. Kembali penggunaan huruf J adalah "ikut-ikutan" bahasa Belanda -menurut beliau-, karena Yogya berasal dari bahasa sansekerta Ayodya, yang berarti juga Surga. Mendengar semua yang beliau sampaikan aku tersadar, bangsa ini benar-benar berucap dan bertindak tanpa tahu apa dasarnya, bangsa yang kehilangan jatidiri kebangsaannya dan lebih bangga pada unsur-unsur serapan asing. Bahwa aku benar-benar anak bangsa yang apatis, cuek, bahkan tanah tumpah darahku sendiri yang diberi nama begitu indah yang bermakna sebagai surga tak pernah aku hargai. Bila itu terjadi secara massal maka wajarlah bila seluruh penduduk-setidaknya kota ini- tak pernah berusaha mewujudkan kota ini menjadi surga bagi kehidupan kami. 

Hanya sebuah sentilan kecil dari mas Guruh, namun apa yang seakan ringan beliau minta itu adalah sebuah konsekuensi besar yang harus ditanggung bila terjadi pembiaran. Dan blog ini aku tulis setidaknya sebagai satu bentuk kepedulian dan jawabanku atas himbauan beliau sore itu, "Tolong teman-teman sebar luaskan informasi ini ya..."

Jumat Malam, 3 Feb 2012 di Halaman Mandala Bhakti Wanitatama