Sabtu, 06 Juni 2015

Ladang Jiwa

Saat berladang,

kutemukan tumbuhan iri hati mulai bersemi,
kuambil hingga ke akarnya sepenuh cinta, 
kukatakan pada diriku, semua memiliki tugas dan perannya, semua sudah diletakkan sesuai dengan kemampuannya, lantas mengapa iri dan menginginkan yang menjadi tempat bagi orang lain. Selesaikan tugasmu sendiri, tak perlu menoleh pekerjaan yang lainnya. 

lalu kulihat biji kesombongan mulai bertunas,
kusiangi dengan penuh kasih, dan kuingat, betapa kecilnya manusia dibandingkan seluruh semesta raya, lihatlah, sedangkan bumi yang mampu menampung sekian banyak makhluk hidup pun tak pernah bersombong diri, dan senantiasa tunduk pada ketentuan Tuhan atas semesta.

saat hendak beranjak, kukira benih iri telah habis,
ternyata di sudut lain ia bertumbuh juga..
ah, mengapa harus dipelihara? bila kutahu, semua sudah mendapatkan sesuai dengan haknya.

seluas pandangan mata, 
ah, ternyata masih ada, benih rasa ketertinggalan, benih rasa tak berguna, benih rasa "aku kan hanya", benih rasa tersisih, benih rasa tak diperhatikan, benih rasa tak didengarkan..
Tuhan, ini adalah iri dan kecemburuan dalam wujud yang semakin halus, yang bertumbuh diantara tanaman tanaman surga

Berikan aku cahaya-MU untuk menerangi ladangku, untuk menajamkan pandanganku agar mampu memilih mana yang harus dipelihara....
Berikan aku cinta-MU dan kuasa-MU untuk menyianginya tanpa merusakkan tanaman lainnya..

Sidoarjo lewat tengah malam 7-6-15

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (22:46)
"demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami." (30:59)


Senin, 16 Maret 2015

Maleficent, Saat Dendam Luruh dan Berganti Cinta


"Pada jaman dahulu kala, di sebuah negeri hiduplah Raja dan Ratu yang telah bertahun-tahun lamanya belum dikaruniai keturunan, hingga suatu hari sang Ratu pun akhirnya mengandung. Raja dan Ratu sangat bersuka cita. Hari demi hari dinanti, dan tiba saat yang ditunggu-tunggu seluruh negeri, lahirlah seorang bayi nan lucu. Raja pun mengundang para peri ke pesta kelahiran tersebut. Peri-peri berdatangan untuk memberikan mantera-mantera kebaikan, bagi sang putri yang baru lahir. Namun tak diduga, sekonyong-konyong datanglah seorang peri jahat yang tak diundang ke pesta tersebut. Sang peri amat sangat marah karena merasa diabaikan oleh Sang Raja. Dengan segenap kemarahan dan kekuatannya, dia mengutuk sang Putri yang baru lahir, bahwa nanti setelah ulang tahun yang ke enambelas Sang Putri akan tertusuk jarum pemintal dan meninggal. Semua yang hadir terkesiap kaget, Raja dan Ratu sangatlah sedih hatinya. Beruntung masih ada satu peri yang baik hati yang belum memberikan manteranya, dan ia pun memberikan mantera penangkal, bahwa nantinya Sang Puteri tidak meninggal pada saat tertusuk jarum, Sang Puteri hanya akan tertidur seratus hari lamanya, dan dia akan terbangun saat mendapatkan ciuman dari Pangeran yang menjadi cinta sejatinya."
Cerita di atas adalah sepenggal dongeng yang dipopulerkan oleh Walt Disney, kita mengenalnya sebagai dongeng Puteri Aurora, Sang Puteri Tidur atau Sleeping Beauty. Berpuluh tahun lamanya anak-anak terbiasa dengan dongeng-dongeng, peri baik-peri jahat, dan peri jahat selalu tak memiliki sisi kebaikan sama sekali dalam dirinya, selamanya dia adalah jahat hingga layak dibunuh untuk menghentikan kejahatannya.. Gambaran lain yang didapat dari kisah-kisah dongeng tersebut adalah  bahwa cinta sejati hanya melulu antara Sang Puteri dengan Sang Pangeran. 

Setelah berpuluh-puluh tahun Sang Pangeran menempati tempat yang mulia sebagai satu-satunya pemilik cinta sejati dan Sang Penyihir jahat senantiasa dipojokkan, tak diberi kesempatan memiliki kebaikan, akhirnya pertengahan tahun lalu Disney mengubah semuanya. Dalam cerita "Maleficent" sudut pandang cerita "Sleeping Beauty" diubah dari sisi sang penyihir. Kisahnya tetap sama, tentang Raja dan Ratu yang akhirnya memiliki putri setelah menunggu kehamilan selama bertahun-tahun lamanya, dan tentang Sang Penyihir yang marah dan mengutuk Sang Putri. Namun, di awal cerita ini dikisahkan bahwa sebenarnya dulu Sang Penyihir adalah seorang peri yang baik hati, dia bersahabat sejak kecil dengan Alfred. Hingga saat remaja, sang peri jatuh cinta pada Alfred, dengan segenap keluguannya dia sangat percaya bahwa Alfred pun mencintainya. Rasanya cerita ini lebih dekat dengan kenyataan hidup sesungguhnya, bahwa ketika keserakahan merasuki seseorang maka, hilanglah rasa kemanusiaan orang tersebut. Begitupun yang terjadi pada Alfred, dia tergiur dengan sayembara, bahwa siapapun yang mampu menundukkan pimpinan bangsa peri maka dia berhak menjadi raja. Dengan tipuan cintanya, Alfred melakukan hal yang keji, yaitu memotong sayap sang peri. 

Tenggelam dalam kesedihan dan kemarahan yang dalam, hingga tersulutlah api dendam sang peri, dialah Maleficent, yang akhirnya menjadi penyihir. Seluruh negeri peri menjadi muram karena kehilangan kehangatan sikap Maleficent. Dan puncaknya adalah kutukan Maleficient pada Aurora Sang Putri yang baru lahir. Kutukan yang memiliki kekuatan sangat dahsyat hingga tak ada kekuatan dari langit dan bumi yang mampu membebaskan Sang Puteri dari kutukan tersebut.

Konon untuk menyelamatkan jiwanya dan menghindari kutukan, maka Aurora diasingkan dari kerajaan, hidup dipinggir hutan diasuh oleh peri-peri yang melindunginya. Tahun demi tahun berjalan, Aurora tumbuh menjadi gadis periang yang baik hati, dan dia justru sangat menyukai bermain-main di kediaman Maleficent. Dengan kepolosannya Aurora justru mengangkat Maleficent sebagai ibu peri pelindungnya. Dia tidak mengetahui bahwa Maleficent lah yang sudah mengutuk dirinya agar nanti di usia 16 tahun dia tertusuk jarum lalu teridur selama-lamanya kecuali ada seseorang yang mencium Aurora dengan sepenuh rasa cinta, cinta sejati. Maleficent yakin bahwa cinta sejati tak pernah ada di dunia ini, sehingga dia menganggap bahwa sebenarnya penawar kutukan itu takkan ada. 

Hari demi hari Maleficent melihat Aurora yang selalu bermain dengan riang gembira, penuh kebahagiaan dan penuh cinta, semua itu perlahan-lahan membuat hatinya melunak. Dia mulai bisa memaafkan semuanya. Rasa sayangnya pada Aurora pun mulai timbul, dia menyesal telah mengutuk Aurora. Alkisah saat Aurora tertidur menjelang usia ke enambelaasnya, Maleficent menatapnya lekat-lekat, dan menitikkan airmata. Saat itu juga dia mencoba menarik semua kutukannya pada Aurora. Namun ternyata kekuatan kegelapan yang ia gunakan  untuk mengutuk Aurora jauh lebih besar daripada kekuatann yang saat ini ia gunakan untuk menarik kutukan tersebut. Maleficent sangat bersedih.

Suatu ketika, Aurora pun mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah seorang putri raja, dan dulu ia dikutuk oleh Maleficent. Mengetahui kenyataan ini dia sangat kecewa dan marah. Aurora berlari kembali pulang ke kastil tempat ayahandanya (ayah Aurora adalah Alfred yang dulu mengiris sayap Maleficent demi mendapatkan tahta kerajaan). Namun malang ternyata itulah saatnya kutukan Maleficent harus mewujud padanya. Aurora tertusuk jarum pemintal, dan jatuh tertidur. Mengetahui hal ini Raja pun murka bukan kepalang. Maleficent diburu. 


Maleficent yang menyesali tindakannya, berupaya mencari Sang Pangeran yang diketahuinya dicintai oleh Aurora, karena Sang Pangeran itulah yang diharapkan dapat membebaskan Aurora dari kutukan, yaitu dengan cara memberikan ciuman cinta sejatinya pada Aurora. 
Maleficent bertekad membawa Sang Pangeran ketempat Aurora tertidur di dalam kerajaan, dan ia merelakan dirinya menanggung resiko tertangkap dan disiksa oleh Raja demi menebus dosanya karena telah mengutuk Aurora. Sesampai di kerajaan, dia meminta Pangeran agar mencium Aurora, namun ternyata Sang Pangeran tak sanggup melakukannya. Kegagalan upayanya mendapat ciuman cinta sejati Sang Pangeran pada Aurora itu menimbulkan penyesalan terdalam Maleficent, permintaan maaf yang tulus membuat rasa kasih sayangnya pada Aurora dapat terpancar seketika. Dan ternyata, itulah pelukan cinta sejati yang membebaskan kutukan tidur abadi Aurora. Kisah ini berakhir dengan obyektifitas yang berbeda dari kisah Aurora yang selama ini ada.

Mungkin dua versi cerita tersebut hanyalah dongeng pengantar tidur. Akan tetapi bila kita cermati lebih dalam maka kita bisa mengambil hikmah dari sana. Kisah Aurora versi lama cenderung menggiring seseorang untuk berpikir secara dangkal dan menghakimi, sedangkan kisah Aurora versi Maleficent sangat dalam maknamya. 
Seseorang yang baik bisa saja menjadi sangat jahat saat ia tergiur dengan keserakahan akan kekuasaan, hingga mematikan rasa cinta dan kemanusiaannya. Juga, seseorang yang baik bisa menjadi jahat saat dia membiarkan dirinya tenggelam dalam kekecewaan, kemarahan dan terbakar dendam. Namun hitam tak selamanya hitam, saat seseorang bertaubat dan menyesali perbuatannya, lalu dia rela melakukan segala hal untuk menebus kesalahanya dimasa lalu, maka ia layak untuk memiliki cinta sejati, yang mana kekuatan cinta sejati ini sangatlah dahsyat karena mampu membebaskan seseorang dari kutukan dan penderitaan. Cinta disini digambarkan secara luas, cinta bukanlah hanya sekedar rasa suka antara laki-laki dan perempuan, namun cinta hakikatnya adalah rasa yang benar-benar terpancar dari seseorang yang memiliki kebersihan dan ketulusan hati.

Salam cinta penuh kedamaian.

Minggu, 21 Desember 2014

Memilih Rasa

Kehidupan, adalah rangkaian dari berbagai macam peristiwa. Saat menjumpai setiap peristiwa, maka kita akan mendapatkan berbagai pilihan rasa, sedih, marah, kasihan, gembira, bahagia, atau biasa biasa saja. Tuhan menyediakan semua, termasuk kebebasan untuk memilih rasa. 

Mungkin saja, saat peristiwa itu terjadi didepan mata, nafsu dan ego kita berteriak lantang hingga pilihan kitapun mengikuti dia. Ego manusia selalu ingin dimenangkan, tak mau kalah, tak mau mengalah. Hingga apabila tak sesuai kehendaknya maka jalan kemarahan, kekecewaan, dan kesedihanlah yang ditempuh. Padahal, jalan ini tak pernah membawa seseorang kepada tujuan kehidupan, cenderung gelap dan menyesatkan. Bila terus menempuhnya maka seseorang itupun akan merasa sangat lelah karena tak kunjung sampai tujuan dan kehabisan energi dalam menempuhnya. Bahkan tak jarang, dalam kegelapan, dia tersandung, tersungkur, terjerembab dan terjatuh dalam lubang-lubang yang tak dapat dilihatnya. Sebaliknya, apabila ego mendapatkan apa yang diinginkannya, maka seseorang akan merasa menang, hingga teramat sangat gembira, euphoria yang menciptakan kebahagiaan semu, yang menyulut api kesombongan yang menyilaukan. Hingga akhirnya membakar diri sendiri, dan habislah semua menjadi abu kehidupan.

Ajaran bijaksana mengatakan, setiap manusia hendaknya sadar dalam setiap rasa yang hendak dipilihnya. Karena, hakikatnya kehidupan, adalah sebagai wujud penghambaan diri, pengabdian pada Sang Maha Pencipta, sehingga apapun yang didapatkan tentunya tak luput dari ijin dan kehendak-Nya. Saat mendapati apa yang diinginkan, bersyukurlah yang dalam, tak perlu sorak sorai. Dan pada saat belum berhasil bersabarlah sembari terus berusaha mengolah diri, meng-upgrade kemampuan agar menjadi layak dan mendapatkan ridha-Nya.. Dengan menyadari untuk bersabar dan bersyukur, maka kita telah memilih menempuh jalan damai, Yang berarti berdamai dengan segala keadaan yang kita terima. Damai berarti tak ada rasa yang melonjak ataupun terjerembab, semua dalam frekuensi ketenangan belaka. Karena hanya dengan ketenangan maka cahaya dari lentera hati kita takkan menjadi padam dan tak juga membakar diri kita. 

Salam cinta

Senin, 28 Juli 2014

Idul Fithri, Menggemakan Takbir Sebagai Penyatuan Diri Pada Kesadaran Ajaran Ilahi

 Sudah menjadi tradisi turun temurun perayaan Hari Raya Idul Fitri setiap 1 Syawal yang diawali dengan kumandang takbir dimana-mana. Lalu dilanjutkan pada siang harinya sholat Id dan ritual maaf memaafkan. Semarak dan indah memang karena disana biasanya sanak keluarga yang terpisah-pisah bisa berkumpul dan saling berbagi cinta dan kerinduan. 

Sekilas pandang, perayaan Idu Fitri seakan adalah perayaan kebebasan setelah sebulan sebelumnya harus mengekang semua hawa nafsu dan keinginan. Namun, benarkah demikian ajaran yang sebenarnya?
Mungkin memang bisa jadi demikian bagi sebagian orang. Namun sebagian orang merasa sedih karena harus berpisah dengan ramadhan yang syahdu dimana mereka bisa lebih khusyuk beribadah, dan bagi sebagian orang lagi dirasakan, biasa saja, karena mereka menyadari semua adalah bagian dari rutinitas penggemblengan diri, yang memang bukan untuk dilakukan terus menerus karena apapun memang harus dilakukan sesuai porsinya.
Terlihat bahwa, dalam satu peristiwa, dipahami dengan cara yang berbeda-beda.

Alangkah lebih bijaksana, apabila seiring waktu yang berjalan, kita terus menggali pemahaman yang lebih dalam mengenai ajaran Allah yang sudah diberikan kepada kita sebagai way of life. Meskipun diri kita bukanlah pendakwah ataupun ahli agama, namun sudah jelas bahwa Sang Pencipta menghendaki setiap individu agar senantiasa belajar dan menuntut ilmu.

Penggemblengan itu diawali dengan Ramadhan. Ramadhan, yang dimaksudkan Allah sebagai sarana dalam bentuk satu periode yang kondusif untuk latihan pengendalian diri dan benar-benar menyerahkan semua hasil tindakan kita sehari-hari dalam rangka pengabdian pada Allah semata. Ramadhan adalah saran purification. Karena selama ramadhan jiwa kita diharapkan dibersihkan dari segala pikiran, perasaan dan emosi negatif yang mengotori diri kita, sehingga dengan bersihnya diri kita maka ajaran Allah yang suci dan bersih akan mampu menancap dalam kesadaran ruhani. Karena yang suci takkan mau masuk ketika diri kita penuh kekotoran. Hukum alam ini gelap dan terang tak bisa menyatu. Dan akhir ramadhan adalah puncak pemurnian diri yang diwarnai dengan gema takbir dimana-mana. Alangkah indahnya apabila takbir itu menggema dalam setiap kesadaran sel-sel kemanusiaan kita, satu malam yang benar-benar powerful, penuh dengan semangat baru untuk mengujudkan ajaran Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang diawali pada 1 Syawal.

1 Syawal dikenal sebagai Hari Idul Fithri, yang dapat dipahami lebih dalam sebagai kembali kepada fitrah (Id : kembali, Fithri : ujud kehidupan menurut hakikat penciptaannya), fitrah disini tentunya fithtratallah, fitrah dari Allah yang menciptakan manusia), jadi Idul fitri adalah kembali kepada konsep awal, yaitu hidup sesuai kehendak Allah yang dapat dipahami melalui ajaran-Nya). Hal ini bisa dibaca pada QS Ar Ruum 30. Pembahasan lebih luas tentunya akan mencakup ajaran Allah yang mencakup konsep kehidupan untuk mengujudkan khasanah fidunnya, Jannah dalam kehidupan. Disitulah nantinya dapat terjawab mengapa zakat juga terkait dengan Idul fithri ini. Karena sistem zakat sebenarnya adalah bagian yang menyatu, yaitu sistem yang merupakan penyokong secara fisik untuk mengujudkan kehidupan indah yang saling tolong menolong dalam kesadaran Ilahiah.

Sudah saatnya umat muslim untuk move on, menggali lebih dalam makna Ramadhan dan Idul Fithri. Maaf memaafkan bisa kita lakukan setiap detik kehidupan. Jadikan itu bagian dari kesadaran diri untuk kebersihan jiwa kita dalam rangka pemahaman yang lebih besar yakni kesadaran bahwa, ajaran Allah tak mungkin menyatu dengan kesadaran diri manakala diri kita penuh dengan niat buruk, pikiran dan perkataan buruk  serta  tindakan yang negatif.

Selamat menempuh satu tahun kedepan dengan penuh kesadaran dan sampai jumpa pada Ramadhan berikutnya, Biarlah keselamatan dan berkat serta rahmat Allah tercurah bagi kita semua.


Jumat, 11 Juli 2014

Kemenangan Cinta

Rembulan beranjak penuh
Pendarnya memeluk erat ibu pertiwi
Pada suatu malam
Menjelang pertengahan ramadhan
Jiwa jiwa nan bercahaya
Tepekur dalam khusyuknya pengharapan agung
Kepada Sang Maha Kuasa
Memenuhi bumi dengan cinta-NYA
Bukanlah kidung merdu
Bukanlah gita membahana
Namun bisik lirih nurani yang menggelorakan kuasa cinta-Nya
Membasuh merah durjana angkara murka
Hingga memerah jambu cinta
Terurai haru 
Bersyukur 
Bersujud
Damai

Jumat, 04 Juli 2014

Suara Setetes Air untuk Indonesiaku

" Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri "

Sebuah kalimat yang datang bukan dari mulut seorang manusia, namun firman dari yang Maha Tinggi, Pencipta Alam Semesta. Tentunya itu bukanlah rangkaian kata tanpa makna, kalimat tersebut berlaku mengikat bagi semua ciptaan-Nya.

Menengok masa lalu bangsa ini, mestinya kita semua tahu, tanah air kita telah banyak merekam segala peristiwa. Negeri nan subur ini pernah menjadi bangsa yang makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Namun selain itu jejak sejarah mencatat aneka pergolakan, pertumpahan darah, penjajahan, kemiskinan dan aneka penderitaan. Bila kita cermati, banyak sekali terjadi keonaran dan bahkan pertumpahan darah pada peralihan pemimpin pada kerajaan kerajaan di jaman dahulu kala.
Mau tak mau, tak dapat dipungkiri, semua yang telah terjadi itu mengukirkan pahatan-pahatan dalam alur sejarah. Rasanya pahatan penderitaan jauh lebih panjang daripada pahatan kebahagiaan. Derita tigaratus lima puluh tahun penjajahan rasanya belum sebanding dengan hampir tujuh puluh tahun negeri ini merdeka. Euphoria saat Bung Karno lantang memproklamasikan kemerdekaan bangsa kita, memang sempat mendidihkan semangat persatuan dan kesaatuan bangsa Indonesia. Namun itu tak lama, segera hanya terhitung tak sampai tiga dasawarsa, kembali terekam luka. Jejak jejak berdarah menjelang pergantian kekuasaan. Lalu kembali tiga dasawarsa dalam kedamaian semu, dan kembali aneka pergolakan silih berganti. Kepedihan, darah dan airmata rekaman perpecahan dan kekerasan sarat membebani masa lalu bangsa kita.

Bila satu persatu kita ditanya, tentu kita semua menjawab bahwa kita menginginkan negeri yang damai, tentram, aman dan sejahtera. Namun ironis, rasanya apa yang menjadi keinginan hanyalah sekadar keinginan. Tak berkesesuaian antara keinginan dan tindakan. Menginginkan damai, namun membiarkan ego pribadi melanggar hak orang lain. Itu yang sering terjadi. Semua ini harus diakhiri.

Sudah saatnya, bangsa ini mengubah dirinya, menjadi bangsa yang damai, bangsa yang bahagia. Tuhan sudah membebaskan kita untuk membentuk sendiri hidup kita, memberi hak untuk kita sendiri melakukan perubahan-perubahan, menciptakan hidup kita lebih baik. Bukan siapa presiden kita, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang hebat, namun upaya dan kesadaran dari masing masing kita lah yang akan menghebatkan bangsa ini. Berawal dari mengubah masing masing diri menjadi lebih baik. Budi pekerti luhur itu masih ada bila kita mau menggali lagi, marilah. Kembali pada agama masing-masing namun bukan untuk menjadi terkotak kotak dan saling bergesekan, biarlah agama menjadi satu satunya ikatan, bahwa kita meniatkan hidup ini adalah pengabdian, salurat berkat dari Tuhan untuk kebahagiaan seluruh alam.

Meskipun ini hanyalah terdengar selintas lalu sebagai bunyi setetes air nun jauh dalam gua di bawah tanah, namun aku tetap berharap, suara setetes air ini menggema dan suatu saat mewujud seiring harapan semesta raya.

Salam cinta untuk Indonesia yang damai dan berbahagia

Senin, 23 Juni 2014

Ketukan Kesunyian

Tanpa mengetuk pintu, tiba-tiba sekelumit gelisah mengusik diamku. Terbersit sendu sebuah perpisahan. Bayang kehangatan canda, ketulusan dalam setiap senyuman yang harus direlakan tuk ditinggalkan. Berontak dalam keheningan. Akankan sepi? Jalanan sunyi terasa membentang menunggu dilewati. 

Tak lama. Tak kubiarkan rasa merajalela, merenggut damai. Tak ingin damai yang kubangun sekian lama terkoyak sia-sia. Aku pulang dengan diam. Bertanya pada Sang Pemilik Kesunyian. "Haruskah ini direnggut dari hidupku? Haruskah keindahan ini berakhir sedemikian cepatnya?"

Sunyi tetaplah sunyi, tanpa suara. Namun dalam sunyi ada jawaban, nun di dalam sana. Perlahan, aku mencoba menghampar pemahaman.

"Ketakutan akan kesendirian adalah suara keterikatan, keinginan memang selalu berteriak lantang mengharapkan kenyamanan, bermalas malasan. Seharusnya kau paham, bahwa kesedihan hanya terjadi karena masih terikat pada ego yang dibiarkan membelenggu, maka lepaskan belenggu itu, agar ringan langkah ke depan. Serahkan semua kehidupan pada Sang Maha Kuasa, maka tak ada alasan untuk merasakan apalagi mengatakan kesedihan ketika harus meninggalkan tempat dimana diri merasa nyaman. Semua tempat adalah milik Sang Pemilik Kehidupan. Semua tempat adalah wahana untuk bekerja dengan giat sebagai pengabdian pada Sang Pemilik Kehidupan. Semua tempat adalah ladang tempat menanam dengan penuh ketulusan, dan menyerahkan semua hasil panen pada Sang Pemilik Kehidupan. Seluruh daratan di sepenjuru muka bumi adalah sajadah tempat bersujud menyerahkan sepenuh kehidupan. "

Dengan memahami hakikat hidup adalah pengabdian, pelayanan dan berserah dengan segenap kerelaan dan keikhlasan dimanapun tempat, maka seharusnya diriku senantiasa berbahagia dimanapun jiwa ini berkarya. Karena yang membuat satu jiwa menjadi berharga bukanlah seberapa hebat keinginannya mampu diwujudkan, namun seberapa hebat ia mampu menundukkan keinginannya dan berserah pada kehendak Tuhan.

Perlahan, belenggu kesedihanpun mulai merenggang, diriku terbebas, tersenyum lepas dan berbahagia. Kidung malam kembali terdengar indah menemani kesunyian, karena dalam sunyi aku tahu, aku tak pernah sendiri. Terimakasih Tuhan.