Kali ini perjalanan Surabaya-Yogya yang kesekian kalinya aku tempuh, mengajarkan tentang sesuatu hal.
Aku cukup beruntung mendapatkan tempat duduk favoritku, di belakang supir persis, aku suka karena biasanya ruang gerak kaki lebih lega, dan tentu pandangan mataku tak jauh beda dengan ketika aku mengemudikan sendiri kendaraanku. Ransel aku taruh di bawah kaki, kupasang headset, lalu nonton lewat HP.
Tempat duduk di sebelahku yang masih belum terisi penumpang sambil berdoa dalam pikiran saya, “Ya Tuhan mudah-mudahan nanti yang duduk di sebelah saya orangnya asyik.”
Di Terminal Bungurasih malam itu cukup banyak calon penumpang yang mengantri masuk, satu persatu naik ke bus dan memilih tempat duduknya masing-masing, hampir penuh, tapi sebelahku belum juga ada yang duduk.
Beberapa saat kemudian, akhirnya ada seorang ibu berkaus merah dan celana santai ¾, dia bertanya,
“ kosong ini mbak?”
“Oh, iya bu, kosong silakan..”
Kupersilakan beliau duduk di sebelahku, sambil sekilas melihat tote bag kain yang dibawa. Aku kembali asyik menonton streaming online acara talent search di televisi yang sedang seru. Kebetulan aku lagi suka banget karena coaches acara itu memang singer keren dan legendaries.
Sekilas kulihat ibu sebelah juga sibuk dengan handphonenya. Aku duduk santai banget, cenderung koboi malah, satu kaki kutumpangkan diatas ranselku.
“Tujuannya kemana ibu?”
Beliau dengan ramah menjawab, “ke Jogja Mbak, Mbak kemana?”
“Saya ke Jogja juga, ibu tujuannya kemana Jogjanya?”
"Saya kurang tahu alamatnya,”
“Oh, nengok saudara atau liburan bu?” aku nanya sok tahu.
“Saya mau ngisi seminar mbak, kebetulan saya ahli dalam penanganan gigitan ular.
”O..o…" sejenak aku terperangah, lalu pikiranku spontan berbuah pertanyaan,
"Ibu pawang ular?”
“Bukan mbak, saya dokter.”
“ Ooh, ibu dokter hewan?”
Aku masih meneruskan sok tahuku (kalo inget malu banget),
dan akhirnya ibu dokter itu dengan sabar menjawab aku, “Saya dokter manusia mbak, saya dokter umum yang mengambil spesialis kegawat daruratan, kebetulan saya satu-satunya dokter yang mendalami tentang gigitan ular dana penanganannya, “ bla…bla… bla…. Beliau bercerita panjang, bahwa beliau mengawali karir sebagai kepala Puskesmas di Bondowoso, Jawa Timur lalu sempat di RSUD setempat, dan sekarang berdinas di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur di Bagian Penanganan Bencana, dan beliau adalah salahsatu perwakilan WHO.
Nah, beliau ke Jogja ini dalam rangka memberikan seminar ttg Penanganan Gigitan Ular di Fak Biologi UGM.
Ups…. Oh my Goddd....
Bu Dokter sepertinya melihat ke-melongo-anku langsung menjelaskan, “Saya tadi sebenarnya sudah disediakan tiket kereta api, tapi karena saya harus rapat dulu dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jatim, dan baru selesai rapat jam 19.00, sehingga saya ketinggalan kereta. Tapi bagi saya tidak masalah, toh kalau diluar pulau sudah biasa naik kendaraan seadanya, kadang dulu di Kalimantan malah numpang truk.”
“oh, begitu ya Dok…” jawabku.
“Jangan panggil Dok, panggil saja Mbak Ma, “ kata beliau.
Maka perjalanan Surabaya–Jogja selama kira-kira tujuh jam itu menjadi perjalanan yang sangat asyik, kami berbicara segala hal, mulai dari bisa ular, gigitan ular hingga penanganan kebencanaan di negeri ini. Banyak sekali pengetahuan aku dapatkan dari Ibu Dokter Maha (Nama beliau dr Tri Maharani).
Dan dari perbincangan, kami sepakat, bahwa banyak kegawat daruratan dalam bencana juga diakibatkan oleh peran karakter orang-orang yang kurang bagus dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Seperti penanganan yang asal-asalan, mentality yang money oriented, dan sebagainya. Menarik sekali. Dan yang pasti, aku yakin, ini bukan suatu kebetulan. Ini adalah jawaban dari do’a saat sebelum berangkat tadi, sebelah saya orangnya asyik. Thanks GOD. Tak henti bersyukur sepanjang jalan, mendapat banyak pengetahuan.
Setelah rehat di Ngawi, bis kembali berjalan menuju Jogja.
Dr Maha mempersilakan aku untuk datang di acara seminar beliau besok di UGM. Malam sudah tambah larut, Ibu Dokter beristirahat setelah menurunkan sandaran kursinya. Aku belum bisa tidur. Lalu aku sadar, betapa rendah hatinya beliau.
Pukul 04.00 wib sampailah kami di Jogja, namun kami turun di pemberhentian yang berbeda, aku turun terlebih dahulu. Ibu Dokter dengan keramahan beliau kembali mengundangku untuk datang di seminar beliau.
Sesampai di rumah aku masih memikirkan kejadian barusan. Untuk memuaskan penasaranku, aku browsing tentang dokter Maha, dan aku kembali terkaget kaget, memang nggak main-main, ternyata beliau adalah dokter spesialis emergency yang sudah bergelar doktor.
Sabtu siang, menjelang berangkat ke seminar dr Maha, aku membeli buku SOUL Reflection. Aku berniat memberikan buku ini kepada beliau sebagai wujud terimakasih atas pengetahuan-pengetahuan baru yang beliau bagikan dan terutama tentang pelajaran rendah hati yang bisa aku petik dari beliau. Kenapa SOUL Reflection yang aku pilih, ya, karena aku merasa buku ini sangat cocok dengan perilaku yang beliau tujukkan.
Di Auditorium Fakultas Biologi siang itu, aku kembali melihat sosok beliau saat memberikan kuliah umum, begitu gamblang dan mudah diterima pemaparannya.
Dari pojok belakang, aku berbisik dalam hati, Terimakasih pada Tuhan dan terimakasih pada guruku yang selalu mengajarkan agar kami selalu menjadikan siapapun yang kami temui sebagai guru-guru kehidupan juga, terimakasih karena hari itu aku benar-benar belajar tentang kerendah hatian dari seorang yang telah memiliki keahlian luar biasa, satu satunya di Indonesia, namun dengan santai mau naik kendaraan umum tanpa keluhan, dan tetap ceria sepanjang perjalanan. Biarlah semakin banyak pemimpin bangsa kita yang berkarakter budiman dan rendah hati, yang benar-benar mengabdikan jabatannya untuk kemanfaaatan banyak orang. Aamiin.
with all respect & thanks to Dr. dr. Tri Maharani, MSi.,SpEm