Selasa, 11 April 2017

Pondok Klaras Kuliner Jogja Yang Harus Dicoba

Makan sambil rileks, menu kuliner ndeso di Jogja yang harus dicoba

Yogyaku siang ini, matahari berbinar-binar diantara birunya langit, hingga mendungpun tersibak menjauh. Aku masih berada di antara belantara beton di tengah Kota Yogyakarta, ketika usus di perutku membunyikan sinyal laparnya. Kulihat jam di handphone, menunjukkan waktu untuk makan siang. Dan seketika aku juga teringat sebuah tempat makan yang baru dibuka yang letaknya tak terlalu jauh dari pusat kota Jogja, tempat yang menawarkan suasanya nyaman dan ragam makanan khas desa kesukaanku. Ah, sabar sebentar, setelah selesai tugas aku pasti meluncur kesana.

Bergegas. Setelah semua kubereskan, aku bersama seorang teman meluncur ke arah barat laut Yogyakarta, tepatnya di Desa Brengosan, Sumberadi, Mlati, Sleman. Hanya butuh waktu 15 menit dari pusat kota untuk menuju kesana. Beruntung sekali, tempatnya mudah dicari, kami hanya perlu  mencari perempatan Cebongan yang cukup familiar di Yogyakarta. Bisa ditempuh dari Jalan Magelang, nanti di KM 6, sebelum Makam Dr Wahidin Sudirohusodo, belok ke kiri, terus menuju  ke arah Barat hingga sampai ke perempatan Cebongan, lalu belok kanan. kira kira 300m dari perempatan tersebut, di sebelah kiri jalan. Tak sampai hitungan jam, kami sudah berada di Pondok Makan Klaras. Begitu masuk ke area Pondok Makan Klaras, kami disambut dengan keramahan pelayanan dan wow !! pemandangan sawah menghampar di sebelah barat,  suasana perkampungan nan asri, pepohonan hijau yang disuguhkan. pas sekali untuk merefresh dan merilekskan pikiran.

Pondok Klaras, Kuliner Jogja Yang Harus Dicoba
Saung yang nyaman untuk nglaras di Pondok Klaras
Setelah memilih satu saung (gubug) kami disambut dengan aneka menu tradisional. Menu desa, aneka dhaharan (makanan) dan wedangan (minuman) tradisional seperti mangut lele, sambel welut (belut), nila bakar, ayam goreng klaras, sayur lodeh, sayur lodeh jantung pisang, sayur lodeh kluwih, sayur bobor, sambel trasi, pete goreng, dan aneka jajanan tradisional. Dan siang ini pilihan kami adalah nila bakar, ayam goreng klaras, nila bakar, sambel trasi dan lodeh kluwih. Serasa pulang ke rumah Simbok.

Ayam kampung goreng nya enak, nila bakarnya juga enak
Menurut Mas Nova, salah satu manager Rumah Makan Pondok Klaras, rumah makan ini buka dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Saat ini masih soft opening dan masih berbenah di beberapa sudut, termasuk akses jalan masuk sedang diperkuat untuk antisipasi membludagnya pengunjung rumah makan, mengingat lokasi yang strategis dan menu makanan yang benar-benar menjadi pengobat rindu akan makanan khas desa. Grand opening baru pada  tanggal 20 April 2017 nanti, namun monggo, sekarang sudah siap  di uji coba cita rasa menu kuliner ndeso  khas Jogjakarta



Sabtu, 25 Februari 2017

Membangun Indonesia Damai Bersama Tim Pojok Duta Damai

Indonesia damai, mari kita berupaya

22 Februari 2017, di salahsatu ruangan di Rumah Kreatif Jogja di daerah Sagan Yogyakarta, saya beruntung sekali karena mendapatkan kesempatan mengikuti acara "Mewarnai Indonesia melalui Kelas Blogging dan Menulis bagi Pemula". Dimana “Mewarnai Indonesia” merupakan Program Kerja Tim Pojok Duta Damai Dunia Maya BNPT Regional Jogja Tahun 2017 yang juga didukung oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta dan Dinas Pariwisata Sleman dan difasilitasi oleh Rumah Kreatif Jogja. Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya Tim Pojok Duta Damai dengan nge-blog yang baik, cara menulis yang baik? Namun tidak lama pertanyaan tersebut menari-nari di benak saya, pertanyaan saya segera terjawab dari penjelasan mbak Elizabeth Elzha salahsatu narasumber, menyampaikan bahwa Tim Pojok Duta Damai Dunia Maya berikutnya disebut Tim Pojok merupakan bentukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia yang ditugaskan di Jogja sejak tahun 2016. Tugas mereka adalah melawan aksi kelompok radikalisme dan terorisme melalui konten-konten positif di dunia maya (online) yang diunggah melalui portal www.pojok.dutadamai.id.

Menyimak penjelasan Mbak Elzha tersebut saya semakin bersemangat, karena seperti kita ketahui bersama, akhir-akhir ini banyak sekali konten di internet terutama, yang dengan mudah bisa diakses, padahal isinya provokatif, memecah belah dan menyebarkan hal-hal negatif. Sedangkan di era digital dan era keterbukaan seperti sekarang ini, tidaklah mungkin membatasi penggunaan internet bagi masyarakat, sehingga tepat sekali pilihan campaign penulisan konten-konten positif dan menyebarkan melalui akun media sosial pribadi khususnya melalui platform blog yang digagas Tim Pojok tersebut. 

Bisakah mengupayakan Indonesia Damai dari tulisan ? 

Bagi beberapa orang mungkin akan memandang sebelah mata upaya ini, tapi bagi saya pribadi sangat mendukung upaya-upaya untuk menegakkan kebaikan entah apapun bentuknya. Karena saya meyakini apa yang saya pelajari dari pembelajaran energi yang saya dapatkan melalui lembaga Spirit Of Universal Life bahwa, energi sejenis akan menarik energi sejenis, dan manusia meradiasikan pikirannya dalam bentuk energi ke alam ini, sehingga ketika kita memproduksi pikiran positif yang kita tuangkan sebagai konten dalam blog, maka kita juga telah meradiasikannya ke alam, dan otomatis ketika semakin banyak pikiran positif yang meradiasi ke alam, maka alam inipun akan terinfluence oleh energi positif dan akan menjadi lebih baik. Semakin banyak memikirkan kebaikan, kedamaian untuk Indonesia maka Indonesiapun akan mewujud menjadi negara yang damai, aamiin. 

Untuk bisa menuliskan sebuah konten yang positif dan damai tentunya kitapun sebagai penulis harus  benar-benar memahami tentang apa itu kedamaian, sebaiknya kitapun sudah merasakan kedamaian di dalam diri kita, sehingga ketika kita menuliskan tidak hanya sekedar tulisan saja, namun menjadi sebuah tulisan yang powerful, mengisnpirasi dan memiliki kekuatan mengubah pola pikir pembacanya menjadi seperti apa yang kita inginkan. 

Selanjutnya mari kita dukung program-program yang bertujuan positif, yang bertujuan membangun kedamaian Indonesia kita. 

Salam damai _/|\_

Kamis, 23 Februari 2017

Minggir Potensi Wisata Di Ujung Barat Sleman

Minggir sebuah tempat asri untuk berwisata

 


Kembali ke desa kelahiran saya di daerah kecamatan Minggir, Sleman, Yogyakarta adalah sebuah rekreasi, sebuah pertemuan kembali dengan masa kecil. Mengingat saat dahulu mandi di kali dan berlarian di pematang sawah adalah kegiatan rutin setiap pulang sekolah. Tidak peduli Bapak dan Ibu marah karena khawatir saya hanyut di sungai Van der Wijk yang cukup dalam, saya tetap mandi di kali bersama teman-teman, hampir setiap hari. Selayaknya anak desa yang tak pernah merasa kesepian dan tak pernah kekurangan bahan mainan, begitulah saya dahulu. 
Minggir Sleman Edi WibowoNamun selepas SMA rumah kami di daerah Balangan, Sendangrejo, Minggir dijual, lalu kamipun hidup berpindah-pindah, begitupun setelah menikah, saya lebih banyak tinggal di luar pulau, dari kota ke kota dengan segala hiruk pikuknya. 

Desa Wisata BrajanBeruntung masih ada nenek dan kerabat yang tinggal di daerah Minggir, sehingga paling tidak sebulan sekali saya masih bisa pulang sembari berwisata di Minggir. Wisata? Ya, berwisata bukanlah selalu harus datang ke tempat yang ada tulisannya "kawasan wisata" menurut orang kebanyakan, tapi bagi saya berwisata adalah ketika kita menemukan sebuah tempat yang tenang, jauh dari hiruk pikuk.
Sesekali saya menyempatkan wisata kuliner membeli iwak bebek bacem di pasar Balangan, slondok rasa bawang atau sekedar gatot dan tiwul. Di Minggir kita juga bisa menemukan desa Wisata Brajan yang memproduksi aneka kerajinan Bambu, lalu di desa Bandan, Plumbon dan sekitar Sendangsari kita bisa membeli tikar mendong, dompet mendong dan aneka barang dari mendong. 

Desa Minggir yang hijau sangat cocok untuk berwisata 

Minggir Sleman Edi WibowoMeskipun saat ini setahu saya masih sedikit sekali dikembangkan untuk pariwisata, namun saya yakin dengan potensi alam yang hijau karena Minggir adalah termasuk daerah penyangga pangan untuk Yogyakarta, dengan lahan sawah yang begitu luas, dan beberapa spot di Minggir memungkinkan pemandangan langsung ke Gunung Merapi, pegunungan menoreh dan berbatasan dengan Kali Progo, tempuran Kali Krasak, dan sebelah utara terdapat Buk Renteng yang merupakan bangunan irigasi peninggalan Belanda adalah merupakan spot spot yang dapat diandalkan untuk berselfie ria. Semoga suatu hari nanti Kecamatan Minggir akan menjadi alternatif wisata andalan Kabupaten Sleman, karena di Minggir potensi wisata trekking, bersepeda, wisata kuliner, bahkan arung arung jeram masih sangat terbuka untuk bisa dikembangkan
Yuk berwisata ke Minggir.

#wisatasleman




Selasa, 01 November 2016

Memahami Kebenaran

Dengan perkembangan media sosial akhir-akhir ini, masyarakat awam bisa begitu mudah menumpahkan segala pemikiran, idealisme, keyakinan, dan segala hal yang dianggap sebagai kebenaran. Berjuta-juta orang mengatakan hal yang menurut dirinya benar, lalu beberapa berdebat, saling tuding, dan adu argumen. 
Sebenarnya, bila yang dibicarakan adalah sama-sama kebenaran, mengapa terjadi pertentangan ?  

Teman saya, seorang dokter, pernah mengatakan tentang hal ini, beliau bercerita, “Ya, dulu waktu SD ketika ada orang bertanya kepada saya apakah sehat itu, saya akan menjawab, sehat itu ya nggak sakit. Lalu ketika sudah belajar ilmu kedokteran, sehat itu bukan sekedar tidak sakit, namun ada banyak kriteria sehingga seseorang bisa dikatakan sehat. Saat itu saya merasa definisi sehat yang saya pelajari sudah sempurna. Namun, ketika saya belajar ilmu pengobatan timur yang lebih holistic, kesehatan menurut ilmu kedokteran yang saya pikir sudah sangat sempurna, ternyata masih belum sesempurna definisi kesehatan menurut pengobatan holistic, dimana sehat adalah keseimbangan fisik dan jiwa. Bukan hanya fisik saja.”  “dari situ saya bisa memahami, tentang kebenaran itu bertingkat-tingkat”

Demikian juga bagi dunia ini, ketika kita hanya memahami kehidupan di bumi, maka, teori Newton yang mengatakan bahwa semua benda bila  jatuh akan menuju  ke bawah menuju bumi adalah benar. Namun, ketika umat manusia bisa keluar dari Bumi mencapai planet lain, maka kebenaran teori Newton itu sudah bukan kebenaran lagi. Diluar itu maka teori teori lain akan menjadi kebenaran, misalnya teori relativitas Einstein, teori  antigravitasi, dll

Ketika Anda memahami hal tersebut, tentu anda  akan tertawa, apabila melihat seorang ilmuwan fisika memarahi anak SMP, ketika anak itu ngotot, bahwa teori gravitasi berlaku sama persis untuk semua planet. Coba renungkan.  Saat kita ngotot, berdebat dengan orang lain, dan mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, apa yang dikatakan salah, hanya karena kita merasa lebih paham. Atau kita mencibir orang yang baru paham bahwa beragama adalah supaya masuk sorga, sholat supaya tidak masuk neraka, padahal kita sendiri baru paham sedikit makna dan belum benar-benar menjalaninya. Karena orang yang mencibir orang lain, justru karena di belum benar-benar memahami kebenaran itu apa.

Saya teringat sebuah pengalaman, saat di bangku kuliah, saat itu saya baru bergabung dengan salah satu majelis kajian agama, seorang pengajar kajian agama menanyakan beberapa pertanyaan yang saat itu menurut saya agak aneh, dimana dia meragukan saya yang ingin mengikuti kajiannya,  karena cara berpakaian saya menurutnya tidak benar, cara bergaul saya menurutnya tidak benar, sehingga saya tidak dilibatkan, dan bahkan tidak layak bersalaman dengan beliau di saat teman lain diajak bersalaman.  Lalu saya pulang dengan sedih dan bercerita kepada paman saya. Beruntung, saya memiliki paman yang bijaksana, beliau hanya mengatakan, “Ya sudah, biarkan, dia baru melihat sungai lalu bersorak kegirangan, padahal dia belum melihat luasnya samudera.” Kata-kata itu demikian menenangkan saya, sehingga saya tetap belajar dimanapun pada siapapun yang mau mengajari saya hingga saat ini. Itu adalah pembelajaran saya yang pertama tentang kebenaran.

Pada akhirnya, pencarian saya tentang hal tersebut, terjawab dalam buku SOUL Reflection dimana di buku tersebut dikatakan bahwa, "Orang yang bijaksana paham bahwa kebenaran bersifat bertingkat. Ketika pemahaman kita baru pada tingkatan rendah kita menganggap hal itu benar, tetapi apabila kita memahami yang lebih tinggi lagi maka hal itu tidak lagi sebagai kebenaran bagi diri kita" 
"Lakukan proses pencarian kebenaran di dalam diri, terbukalah dengan ilmu pengetahuan, jangan menjadi fanatik yang berlebihan sehingga kita akan terbuka dengan kebenaran. Ingat, kebenaran akan datang apabila kita tidak menyimpan banyak kebohongan." (¹)

Mari merenung dan berbenah diri. Biarlah kita semua layak mengetahui kebenaran sejati

(¹) Arsaningsih 2014, SOUL Reflection Vol I hal 145

Syukru lillaah & Terimakasih kepada Bunda Arsaningsih yang telah membimbing, Om Ajib Setyabudi Bapake Tama, dr. Rastho Mahotama, yang telah menginspirasi. Salam cinta.

Sabtu, 25 Juni 2016

Kehidupan Menarik Kehidupan

"Aku tidak tahu bagaimana menemukan kehidupan di padang pasir," kata si anak. "Aku tahu ada kehidupan di sana, tapi entah bagaimana menemukannya."
"Kehidupan akan menarik kehidupan," sahut sang alkemis.

The Alchemist by Paulo Coelho
"Kehidupan akan menarik kehidupan." ya, terkadang kita merasa galau ketika mendapati diri kita berada pada satu lingkungan yang tidak nyaman, merasa dicuekin, merasa jutekin, merasa "kenapa sih orang ini kok kalau sama aku kasar?". Padahal, apabila kita memahami, di alam ini berlaku hukum sejenis menarik sejenis, bagaimana diri kita, maka itulah yang akan kita temui. 

Seseorang yang penuh kemarahan dan kekecewaan dalam hidupnya, maka (orang jawa bilang ndilalah) dia akan ketemu orang-orang yang nyusahin. Dan orang-orang yang dalam dirinya sudah penuh kedamaian, akan bertemu juga dengan orang-orang yang sama.

Lantas bagaimana bila kita sudah "merasa" jadi orang baik, tapi kok masih bertemu orang-orang yang "nyebelin"?, simpel saja, berarti kitapun belum sepenuhnya baik. Karena ukuran baik disini bukan hanya diukur dari tampilan fisik dan yang kelihatan saja, namun diukur jauh sampai kedalam simpanan di pikiran bawah sadarnya.

Terkadang orang tidak mengenali dirinya dengan baik hingga di kedalaman dirinya, sehingga pada saat dia merasa baik dan lalu bertemu dengan orang lain yang menurutnya jutek, pemarah, lantas malah sibuk mengoreksi orang-orang disekitarnya. Orang tersebut tidak mengerti bahwa orang yang datang itu sesuai dengan apa yang ada dalam diri kita.

Jadi, yuk mulai kenali diri kita sendiri, jujur pada diri sendiri, lebih banyak melihat ke dalam diri dan menerima semua yang datang sebagai cerminan apa yang ada dalam diri kita sehingga kita bisa terus memperbaiki karakter kita. Memahami bagaimana hukum alam ini bekerja, dan mengenali diri kita sendiri, sehingga mampu menyelaraskan diri sesuai dengan kehendak Tuhan, akan membuat kita hidup penuh keindahan.
Dan, "Keindahan di dalam diri akan menarik keindahan dari luar datang," demikian menurut Bunda ArsaningsihFull

Kamis, 16 Juni 2016

Alangkah Indahnya !

Diluar sana, seperti berada ditengah badai gurun, meskipun kau bisa pulang dengan selamat, seluruh tubuhmu akan kotor dengan debu. Kau perlu mandi dan membersihkan semua sisa kotoran itu. 

Bagi yang bisa merasakan, saat kita berada diluar bersama-sama dengan banyak orang, mirip dengan berada di tengah badai gurun, tapi disini lebih kepada badai energi, badai yang dihasilkan oleh aneka gelombang pikiran kecemasan, kekhawatiran, emosi, kebencian dan sebagainya. 
Terkadang, sesampai di rumah, tiba-tiba kita merasakan ketidak nyamanan perasaan, padahal kita rasanya tidak memikirkan apapun, tidak berbuat apapun, tidak melakukan apapun. Disinilah diperlukan awareness tentang apa yang ada disekitar kita. Kita perlu menyadari, bahwa badan kita tidak melulu fisik ini saja. Namun kita memiliki tubuh energi, yang bisa  secara tidak sadar terpengaruh dari lingkungan sekitarnya, karena getaran frekuensi negatif yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran negatif diluar sana bisa meresonansi tubuh energi kita. Bila kita teresonansi dengan cukup kuat, misalnya dengan frekuensi kemarahan maka bisa jadi sesampai di rumah tiba-tiba kita uring-uringan. Pastinya ini membuat kita dan orang disekitar kitapun menjadi tidak nyaman. 

Lantas, kita pasti berpikir. Bagaimana sebaiknya, atau apa yang harus dilakukan bila tiba-tiba mood kita berubah tanpa kita sadari "kenapa"nya seperti diatas? 

Jawabannya adalah yang pertama tentu dengan menyadari, mengapa kok tiba-tiba muncul rasa yang tidak nyaman. Lalu lakukan upaya untuk membersihkan diri dari energi negatif yang mengkontaminasi diri kita. Ada satu cara yang manjur untuk itu, yang biasa saya lakukan yaitu metode yang pernah saya pelajari saat mengikuti workshop SOUL Reflection. 

Dalam workshop tersebut semua hal tentang frekuensi energi yang mempengaruhi tubuh kita, dikupas tuntas. Di dalamnya kita diajak mengenali lebih dalam mengenai diri kita, bagaimana kita bereaksi terhadap lingkungan sekitar kita, bagaimana kita mengendalikan diri dan bagaimana tahap-tahap yang harus kita lakukan untuk memurnikan diri kita kembali supaya kitapun kembali dalam kondisi damai, tidak terpengaruh sekitar kita. 

Ah, saya berangan-angan, seandainya saja, setiap orang aware dengan dirinya, sehingga emosi emosi negatif tidak lagi merajalela, setiap orang hidup penuh dengan ketenangan dan kedamaian, alangkah indahnya !

#ngesoul_yukk

Sabtu, 30 April 2016

Pelajaran dalam Setiap Perjalanan

Setiap perjalanan selalu memberikan pelajarannya masing masing.  

Seperti halnya perjalanan-perjalananku sebelumnya, demikian juga kali ini,  Surabaya-Yogya yang kesekian kalinya aku tempuh, mengajarkan tentang sesuatu hal. 

Aku cukup beruntung mendapatkan tempat duduk favoritku, di belakang supir persis, aku suka karena biasanya ruang gerak kaki lebih lega, dan tentu pandangan mataku tak jauh beda dengan ketika aku mengemudikan sendiri kendaraanku, karena mengemudi adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan bagiku. Ransel aku taruh di bawah, menutup ac, memasang headset, lalu aku melihat tempat dududk di sebelahku yang masih belum terisi penumpang sambil berdoa dalam pikiran saya, “Ya Tuhan mudah-mudahan nanti yang duduk di sebelah saya orangnya asyik.”  Di Terminal Bungurasih malam itu cukup banyak calon penumpang yang mengantri masuk, satu persatu naik ke bus dan memilih tempat duduknya masing-masing, hampir penuh, tapi sebelahku belum juga ada yang duduk, hingga akhirnya ada seorang ibu dengan perawakan agak gemuk berkaus merah dan celana ¾ santai seperti biasanya ibu-ibu yang biasa naik bus, dia bertanya, “ kosong ini mbak?” “Oh, iya bu, kosong silakan..” Aku mempersilakan beliau duduk, sambil sekilas melihat tas kantong kain yang dibawa. Lalu aku asyik menonton streaming online acara talent search di televisi yang sedang seru. Kebetulan aku lagi suka banget karena coaches acara itu memang singer keren dan legendaries. 

Sejenak aku asyik dengan gadgetku, dan kulihat ibu sebelah juga sibuk dengan handphonenya. Aku duduk santai banget, cenderung koboi malah, satu kaki kutumpangkan diatas ranselku dan aku sadar aku belum berbicara lagi dengan sebelahku hingga acara streaming diinterupsi oleh iklan.   “Tujuannya kemana ibu?” Beliau dengan ramah menjawab, “ke Jogja Mbak, Mbak kemana?” “Saya ke Jogja juga, ibu tujuannya kemana Jogjanya?” “Saya kurang tahu alamatnya,” “Oh, nengok saudara atau liburan bu?” aku nanya sok tahu. “ Saya mau ngisi seminar mbak, kebetulan saya ahli dalam penanganan gigitan ular.” O..o… sejenak aku terperangah, hah,,, pikiranku spontan berbuah pertanyaan, “ ibu pawang ular?” “Bukan mbak, saya dokter.” Aku masih meneruskan sok tahuku (kalo inget malu banget), “ ooh, ibu dokter hewan?”  dan akhirnya ibu dokter itu dengan sabar menjawab aku, “saya dokter manusia mbak, saya dokter umum yang mengambil spesialis kegawat daruratan, kebetulan saya satu-satunya dokter yang mendalami tentang gigitan ular dana penanganannya, “ bla…bla… bla…. Beliau bercerita panjang, bahwa beliau mengawali karir sebagai kepala Puskesmas di Bondowoso, Jawa Timur lalu  sempat di RSUD setempat, dan sekarang berdinas di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur di Bagian Penanganan Bencana, dan beliau adalah salahsatu perwakilan WHO. Nah, beliau ke Jogja ini dalam rangka memberikan seminar ttg Penanganan Gigitan Ular di Fak Biologi UGM. Ups…. OMG. Mungkin Bu Dokter, yang malam itu, di bis itu tidak mau aku panggil Dok, itu melihat ke-melongo-anku langsung menjelaskan, “Saya tadi  sebenarnya sudah disediakan tiket kereta api, tapi karena saya harus rapat dulu dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Jatim, dan baru selesai rapat jam 19.00, sehingga saya ketinggalan kereta. Tapi bagi saya tidak masalah, toh kalau diluar pulau sudah biasa naik kendaraan seadanya, kadang dulu di Kalimantan malah numpang truk.” “oh, begitu ya Dok…” jawabku. “Jangan panggil Dok, panggil saja Mbak Ma, “ kata beliau.

Maka perjalanan Surabaya –Jogja selama kira-kira tujuh jam itu menjadi perjalanan yang sangat asyik, kami berbicara segala hal, mulai dari bisa ular, gigitan ular hingga penanganan kebencanaan di negeri ini. Banyak sekali pengetahuan aku dapatkan dari Ibu Dokter Maha (Nama Beliau).  Dan kami sepakat, bahwa banyak kegawat daruratan dalam bencana juga diakibatkan oleh peran karakter orang-orang yang kurang bagus dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Seperti penanganan yang asal-asalan, mentality yang money oriented, dan sebagainya. Menarik sekali. Dan yang pasti, aku yakin, ini bukan suatu kebetulan. Ini adalah jawaban dari do’a saat sebelum berangkat tadi, sebelah saya orangnya asyik. Thanks GOD. Tak henti bersyukur sepanjang jalan, bahwa begitu baiknya Tuhan.  Pelajaran pertama yang kupahami. 

Setelah rehat di Ngawi, bis kembali berjalan menuju Jogja, setelah beliau mempersilakan aku untuk datang di acara seminar beliau besok di UGM lalu Ibu Dokter beristirahat setelah menurunkan sandaran kursinya. Aku belum bisa tidur. Lalu aku sadar, betapa rendah hatinya beliau, dan aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Saat itu aku langsung  teringat tentang pelajaran rendah hati yang sudah sangat seringkali diajarkan guruku, OMG, ini rupanya pelajaran rendah hati yang ditampilkan dalam versi yang benar-benar tak terpikirkan olehku. Dalam hati aku berkata, Tuhan terimakasih pelajaran ini, dan aku juga berterimakasih sekali pada guru yang mengajarkanku tentang kerendahhatian. 

Pukul 04.00 wib sampailah kami di Jogja, namun kami turun di pemberhentian yang berbeda, aku turun terlebih dahulu. Ibu Dokter dengan keramahan beliau kembali mengundangku untuk datang di seminar beliau. Sesampai di rumah aku masih memikirkan kejadian barusan. Untuk memuaskan penasaranku, aku browsing tentang dokter Maha, dan aku kembali terkaget kaget, memang nggak main-main, ternyata beliau adalah dokter spesialis emergency yang sudah bergelar doktor. Oke, aku memutuskan, untuk datang di acara beliau siang nanti.

Sabtu siang, menjelang berangkat ke seminar, aku membeli buku SOUL Reflection, aku berniat memberikan buku ini kepada beliau sebagai wujud terimakasih atas pengetahuan-pengetahuan baru yang beliau bagikan dan terutama tentang pelajaran rendah hati yang bisa aku petik dari beliau. Kenapa SOUL Reflection yang aku pilih, ya, karena aku merasa buku ini sangat cocok dengan perilaku yang beliau tujukkan.

Di Auditorium Fakultas Biologi siang itu, aku kembali melihat sosok beliau yang begitu berwibawa di depan audience, begitu expertnya beliau. Dari pojok belakang, aku berbisik dalam hati, Terimakasih pada Tuhan dan terimakasih pada guruku yang selalu mengajarkan agar kami selalu menjadikan siapapun yang kami temui sebagai guru-guru kehidupan juga, terimakasih karena hari itu aku benar-benar belajar tentang kerendah hatian dari seorang yang telah memiliki jabatan birokrat  yang dengan santai mau naik kendaraan umum tanpa keluhan, dan tetap ceria sepanjang perjalanan. Biarlah semakin banyak pemimpin bangsa kita yang berkarakter budiman dan rendah hati, yang benar-benar mengabdikan jabatannya untuk kemanfaaatan banyak orang. Aamiin.

with all respect & thanks to Dr. dr. Tri Maharani, MSi.,SpEm

Sabtu, 12 Maret 2016

Menjadikan Buku sebagai Pelajaran Hidup

Bukan jaminan seorang yang membaca buku tentang kesabaran, lalu dirinya menjadi sabar, dan bahkan bukan jaminan orang yang menuliskan tentang kesabaran, dirinya benar-benar orang yang sabar. Beberapa orang, termasuk saya dulu, mungkin mengira, untuk memahami kehidupan ini adalah dengan cara banyak membaca dan mengikuti berbagai seminar. Namun, seiring berjalannya waktu, usia bertambah, permasalahan kehidupan dan peristiwa yang dihadapi pun beragam, akhirnya pemahaman saya berkembang.

Dalam buku SOUL Reflection hal ini dikupas lebih detail, pada Bab : Proses Belajar, yang pada salah satu alinea " Maka ketika kita belajar, melalui proses membaca, jangan hanya membaca saja. Renungkanlah setiap kata demi kata, arahkan ke dalam diri kita untuk mengetahui keberadaan diri, inilah cara kita untuk menunjukkan kekurangan diri." Penulis buku tersebut, Bunda Arsaningsih pernah memberikan wejangan kepada saya, saat saya akhirnya bisa sedikit mengatasi diri saya sendiri ketika menghadapi sebuah permasalahan, beliau mengatakan, "berteori itu bikin pinter, tapi mengalami membuat orang menjadi bijaksana, inilah pelajaran kehidupan. Bersyukurlah kita diarahkan Tuhan untuk menjadi bijaksana"

Jadi, pelajaran hidup, bukan semata-mata dengan mendengar atau membaca, lalu diri kita menjadi paham. Itu baru sebagian tahapan. Karena bila kita membaca saja, lalu kita merasa paham, bisa jadi setelah beberapa saat kemudian kita sudah lupa.  
Pelajaran hidup yang paripurna adalah, setelah kita mendengar atau membaca, lalu dibawa ke dalam diri, dirasakan, dilakukan. Proses merasakan adalah proses yang benar-benar membutuhkan awareness dan kesabaran. 

Memasukkan kata ke dalam tulisan itu mudah, namun memasukkan tulisan ke dalam hati itu yang tidak mudah (Profesor Ali Azis, MAg)

Sumber : SOUL Reflection Book & Radio El Victor 93,3 FM


Minggu, 11 Oktober 2015

Neuron

"Prunning of uneeded cells, we need to prunned of to uneeded connection"

Belajar tentang bagian kecil dari tubuh kita, yaitu sel syaraf, seperti sedang mendengarkan pelajaran dari Tuhan untuk kita.

Proses terbentuknya manusia diawali dengan bertemunya satu sel ovum dengan satu sel sperma. Setelah terjadi pembuahan, maka yang terbentuk paling awal adalah sel sel pembentuk otak, yaitu sel syaraf. Jadi, yang paling awal terbentuk, bukanlah mata, jantung ataupun organ tubuh yang lain. Bahkan pembentukan tabung sel syaraf yang nantinya menjadi pusat syaraf dan otak sudah selesai dibentuk pada minggu ketiga kehamilan. 

Bayi, terlahir dengan lebih dari 100 miliar sel syaraf, dimana sel sel syaraf inilah yang nantinya akan mejadi pusat komando dan saluran informasi yang memerintahkan organ organ tubuh kita untuk beraktivitas.

Saat lahir tersebut masing masing sel saraf berdiri sendiri dan tidak saling terhubung satu dengan yang lain. Namun setelah lahir, dengan adanya stimulasi dari lingkungannya dan asupan nutrisi yang sesuai maka dari masing-masing sel syaraf ini akan muncul serabut-serabut yang nantinya akan memungkinkan menjadi sambungan-sambungan dari satu sel syaraf ke sel syaraf lainnya, yang dalam istilah medis disebut sebagai sinapsis. Serabut terbanyak rata-rata manusia didapatkan saat usia 20 tahunan, Namun, serabut syaraf ini tidak begitu saja tumbuh tanpa aturan. Tuhan memberikan mekanisme alam pada serabut syaraf ini, dimana akan terjadi peluruhan atau matinya serabut syaraf demi untuk efisiensi individu yang bersangkutan. 

Jelas demikian, apabila seorang anak diajari bahasa inggris saat SD, maka di otak kita akan terpeta suatu rangkaian sel syaraf yang saling terhubung satu dengan lainnya yang membuat kita mampu berbahasa Inggris, namun apabila pada waktu selanjutnya tidak pernah digunakan lagi bahasa tersebut, maka sinapsis yang membentuk sistem kemampuan berbahasa inggris tersebut akan luruh, karena tubuh memandang hal tersebut tidak diperlukan, sehingga agar efisien maka sinaps akan diluruhkan secara alami.

Disinilah pelajaran itu bisa dipetik, Tentunya semua kita pernah belajar agama, terutama saat di bangku sekolah (meskipun seminggu sekali ketemu guru agama), namun setelah masuk ke dalam kehidupan nyata sehari-hari hanya sedikit dari kita yang masih peduli untuk terus mengasah diri dengan ilmu agama. Sehingga seperti halnya contoh diatas, semua kemampuan yang tidak pernah diasah maka secara otomatis aturan dari Tuhan yang dipatuhi tubuh kitapun berlaku, maka sistem syaraf yang membentuk pemahaman beragama tersebut akan luruh, naudzubillahi min dzalik.

Hal lain yang bisa kita pelajari adalah tentang sebuah sistem syaraf yang bisa terbentuk permanen apabila dilakukan pembelajaran yang rutin.

"Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu besar bagaikan mengukir diatas air"
Peribahasa itupun bisa dipahami dari sisi biologi, ternyata para ahli menemukan bahwa masa kanak-kanak adalah masa periode emas perkembangan otak. Yaitu bahwa apabila seorang anak kecil diberikan satu pembelajaran  terus menerus secara rutin selama beberapa minggu,  maka syaraf-syaraf di otaknya akan saling terhubung dan membentuk suatu struktur yang bersifat permanen, sehingga membentuk kemampuan dan memory yang sangat baik. 
Oleh karena itulah, kita semua harus ekstra hati-hati dalam mendidik putra putri kita, karena yang tertanam saat usia dini dan terus berulang beberapa waktu akan termemori dengan baik, apabila kita memberikan rekaman yang baik ataupun buruk semua akan termemori kuat dan mewarnai kehidupan mereka kelak. 

Sebagai penutup, sebaris kalimat ini semoga bermakna bagi kita, bahwa 

Alam ini, termasuk tubuh kita (yang merupakan bagian dari alam), memiliki mekanisme baku sebagai bentuk kepatuhan pada  hukum alam yang diciptakan Tuhan. 


Salam.

Jumat, 02 Oktober 2015

Beranikah berserah ?

Berserah pada ketentuan Allah tak sesederhana pengucapannya.  Pengetahuan telah datang, kesadaran telah terbuka. Selebihnya adalah keberanian untuk memutuskan lalu melangkahkan kaki di jalan yang dipilih, yang membentang di depan mata.

Pada beberapa episode mungkin sudah berhasil dan berani melewati pilihan, namun akan selalu ada perempatan, pertigaan, dan kelokan kelokan jalan yang menyesatkan. Selalu ada percabangan di setiap jalan lurus menuju pulang.

Aku bertanya pada diriku, mengapa begitu pengecut ? Bersembunyi di balik bayangan kecemasan, sibuk menciptakan ketakutan akan masa depan. Lalu di manakah kau simpan ikrar yang pernah kau ucapkan Laa ilaha ilallaah... Bahwa kau akan menjadikan Tuhanmu satu satunya sumber kekuatan, satu satunya perancang kehidupanmu.  ???
Ah, syahadatmu belum benar.

Sabtu, 06 Juni 2015

Ladang Jiwa

Saat berladang,

kutemukan tumbuhan iri hati mulai bersemi,
kuambil hingga ke akarnya sepenuh cinta, 
kukatakan pada diriku, semua memiliki tugas dan perannya, semua sudah diletakkan sesuai dengan kemampuannya, lantas mengapa iri dan menginginkan yang menjadi tempat bagi orang lain. Selesaikan tugasmu sendiri, tak perlu menoleh pekerjaan yang lainnya. 

lalu kulihat biji kesombongan mulai bertunas,
kusiangi dengan penuh kasih, dan kuingat, betapa kecilnya manusia dibandingkan seluruh semesta raya, lihatlah, sedangkan bumi yang mampu menampung sekian banyak makhluk hidup pun tak pernah bersombong diri, dan senantiasa tunduk pada ketentuan Tuhan atas semesta.

saat hendak beranjak, kukira benih iri telah habis,
ternyata di sudut lain ia bertumbuh juga..
ah, mengapa harus dipelihara? bila kutahu, semua sudah mendapatkan sesuai dengan haknya.

seluas pandangan mata, 
ah, ternyata masih ada, benih rasa ketertinggalan, benih rasa tak berguna, benih rasa "aku kan hanya", benih rasa tersisih, benih rasa tak diperhatikan, benih rasa tak didengarkan..
Tuhan, ini adalah iri dan kecemburuan dalam wujud yang semakin halus, yang bertumbuh diantara tanaman tanaman surga

Berikan aku cahaya-MU untuk menerangi ladangku, untuk menajamkan pandanganku agar mampu memilih mana yang harus dipelihara....
Berikan aku cinta-MU dan kuasa-MU untuk menyianginya tanpa merusakkan tanaman lainnya..

Sidoarjo lewat tengah malam 7-6-15

"maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (22:46)
"demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami." (30:59)


Senin, 16 Maret 2015

Maleficent, Saat Dendam Luruh dan Berganti Cinta


"Pada jaman dahulu kala, di sebuah negeri hiduplah Raja dan Ratu yang telah bertahun-tahun lamanya belum dikaruniai keturunan, hingga suatu hari sang Ratu pun akhirnya mengandung. Raja dan Ratu sangat bersuka cita. Hari demi hari dinanti, dan tiba saat yang ditunggu-tunggu seluruh negeri, lahirlah seorang bayi nan lucu. Raja pun mengundang para peri ke pesta kelahiran tersebut. Peri-peri berdatangan untuk memberikan mantera-mantera kebaikan, bagi sang putri yang baru lahir. Namun tak diduga, sekonyong-konyong datanglah seorang peri jahat yang tak diundang ke pesta tersebut. Sang peri amat sangat marah karena merasa diabaikan oleh Sang Raja. Dengan segenap kemarahan dan kekuatannya, dia mengutuk sang Putri yang baru lahir, bahwa nanti setelah ulang tahun yang ke enambelas Sang Putri akan tertusuk jarum pemintal dan meninggal. Semua yang hadir terkesiap kaget, Raja dan Ratu sangatlah sedih hatinya. Beruntung masih ada satu peri yang baik hati yang belum memberikan manteranya, dan ia pun memberikan mantera penangkal, bahwa nantinya Sang Puteri tidak meninggal pada saat tertusuk jarum, Sang Puteri hanya akan tertidur seratus hari lamanya, dan dia akan terbangun saat mendapatkan ciuman dari Pangeran yang menjadi cinta sejatinya."
Cerita di atas adalah sepenggal dongeng yang dipopulerkan oleh Walt Disney, kita mengenalnya sebagai dongeng Puteri Aurora, Sang Puteri Tidur atau Sleeping Beauty. Berpuluh tahun lamanya anak-anak terbiasa dengan dongeng-dongeng, peri baik-peri jahat, dan peri jahat selalu tak memiliki sisi kebaikan sama sekali dalam dirinya, selamanya dia adalah jahat hingga layak dibunuh untuk menghentikan kejahatannya.. Gambaran lain yang didapat dari kisah-kisah dongeng tersebut adalah  bahwa cinta sejati hanya melulu antara Sang Puteri dengan Sang Pangeran. 

Setelah berpuluh-puluh tahun Sang Pangeran menempati tempat yang mulia sebagai satu-satunya pemilik cinta sejati dan Sang Penyihir jahat senantiasa dipojokkan, tak diberi kesempatan memiliki kebaikan, akhirnya pertengahan tahun lalu Disney mengubah semuanya. Dalam cerita "Maleficent" sudut pandang cerita "Sleeping Beauty" diubah dari sisi sang penyihir. Kisahnya tetap sama, tentang Raja dan Ratu yang akhirnya memiliki putri setelah menunggu kehamilan selama bertahun-tahun lamanya, dan tentang Sang Penyihir yang marah dan mengutuk Sang Putri. Namun, di awal cerita ini dikisahkan bahwa sebenarnya dulu Sang Penyihir adalah seorang peri yang baik hati, dia bersahabat sejak kecil dengan Alfred. Hingga saat remaja, sang peri jatuh cinta pada Alfred, dengan segenap keluguannya dia sangat percaya bahwa Alfred pun mencintainya. Rasanya cerita ini lebih dekat dengan kenyataan hidup sesungguhnya, bahwa ketika keserakahan merasuki seseorang maka, hilanglah rasa kemanusiaan orang tersebut. Begitupun yang terjadi pada Alfred, dia tergiur dengan sayembara, bahwa siapapun yang mampu menundukkan pimpinan bangsa peri maka dia berhak menjadi raja. Dengan tipuan cintanya, Alfred melakukan hal yang keji, yaitu memotong sayap sang peri. 

Tenggelam dalam kesedihan dan kemarahan yang dalam, hingga tersulutlah api dendam sang peri, dialah Maleficent, yang akhirnya menjadi penyihir. Seluruh negeri peri menjadi muram karena kehilangan kehangatan sikap Maleficent. Dan puncaknya adalah kutukan Maleficient pada Aurora Sang Putri yang baru lahir. Kutukan yang memiliki kekuatan sangat dahsyat hingga tak ada kekuatan dari langit dan bumi yang mampu membebaskan Sang Puteri dari kutukan tersebut.

Konon untuk menyelamatkan jiwanya dan menghindari kutukan, maka Aurora diasingkan dari kerajaan, hidup dipinggir hutan diasuh oleh peri-peri yang melindunginya. Tahun demi tahun berjalan, Aurora tumbuh menjadi gadis periang yang baik hati, dan dia justru sangat menyukai bermain-main di kediaman Maleficent. Dengan kepolosannya Aurora justru mengangkat Maleficent sebagai ibu peri pelindungnya. Dia tidak mengetahui bahwa Maleficent lah yang sudah mengutuk dirinya agar nanti di usia 16 tahun dia tertusuk jarum lalu teridur selama-lamanya kecuali ada seseorang yang mencium Aurora dengan sepenuh rasa cinta, cinta sejati. Maleficent yakin bahwa cinta sejati tak pernah ada di dunia ini, sehingga dia menganggap bahwa sebenarnya penawar kutukan itu takkan ada. 

Hari demi hari Maleficent melihat Aurora yang selalu bermain dengan riang gembira, penuh kebahagiaan dan penuh cinta, semua itu perlahan-lahan membuat hatinya melunak. Dia mulai bisa memaafkan semuanya. Rasa sayangnya pada Aurora pun mulai timbul, dia menyesal telah mengutuk Aurora. Alkisah saat Aurora tertidur menjelang usia ke enambelaasnya, Maleficent menatapnya lekat-lekat, dan menitikkan airmata. Saat itu juga dia mencoba menarik semua kutukannya pada Aurora. Namun ternyata kekuatan kegelapan yang ia gunakan  untuk mengutuk Aurora jauh lebih besar daripada kekuatann yang saat ini ia gunakan untuk menarik kutukan tersebut. Maleficent sangat bersedih.

Suatu ketika, Aurora pun mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah seorang putri raja, dan dulu ia dikutuk oleh Maleficent. Mengetahui kenyataan ini dia sangat kecewa dan marah. Aurora berlari kembali pulang ke kastil tempat ayahandanya (ayah Aurora adalah Alfred yang dulu mengiris sayap Maleficent demi mendapatkan tahta kerajaan). Namun malang ternyata itulah saatnya kutukan Maleficent harus mewujud padanya. Aurora tertusuk jarum pemintal, dan jatuh tertidur. Mengetahui hal ini Raja pun murka bukan kepalang. Maleficent diburu. 


Maleficent yang menyesali tindakannya, berupaya mencari Sang Pangeran yang diketahuinya dicintai oleh Aurora, karena Sang Pangeran itulah yang diharapkan dapat membebaskan Aurora dari kutukan, yaitu dengan cara memberikan ciuman cinta sejatinya pada Aurora. 
Maleficent bertekad membawa Sang Pangeran ketempat Aurora tertidur di dalam kerajaan, dan ia merelakan dirinya menanggung resiko tertangkap dan disiksa oleh Raja demi menebus dosanya karena telah mengutuk Aurora. Sesampai di kerajaan, dia meminta Pangeran agar mencium Aurora, namun ternyata Sang Pangeran tak sanggup melakukannya. Kegagalan upayanya mendapat ciuman cinta sejati Sang Pangeran pada Aurora itu menimbulkan penyesalan terdalam Maleficent, permintaan maaf yang tulus membuat rasa kasih sayangnya pada Aurora dapat terpancar seketika. Dan ternyata, itulah pelukan cinta sejati yang membebaskan kutukan tidur abadi Aurora. Kisah ini berakhir dengan obyektifitas yang berbeda dari kisah Aurora yang selama ini ada.

Mungkin dua versi cerita tersebut hanyalah dongeng pengantar tidur. Akan tetapi bila kita cermati lebih dalam maka kita bisa mengambil hikmah dari sana. Kisah Aurora versi lama cenderung menggiring seseorang untuk berpikir secara dangkal dan menghakimi, sedangkan kisah Aurora versi Maleficent sangat dalam maknamya. 
Seseorang yang baik bisa saja menjadi sangat jahat saat ia tergiur dengan keserakahan akan kekuasaan, hingga mematikan rasa cinta dan kemanusiaannya. Juga, seseorang yang baik bisa menjadi jahat saat dia membiarkan dirinya tenggelam dalam kekecewaan, kemarahan dan terbakar dendam. Namun hitam tak selamanya hitam, saat seseorang bertaubat dan menyesali perbuatannya, lalu dia rela melakukan segala hal untuk menebus kesalahanya dimasa lalu, maka ia layak untuk memiliki cinta sejati, yang mana kekuatan cinta sejati ini sangatlah dahsyat karena mampu membebaskan seseorang dari kutukan dan penderitaan. Cinta disini digambarkan secara luas, cinta bukanlah hanya sekedar rasa suka antara laki-laki dan perempuan, namun cinta hakikatnya adalah rasa yang benar-benar terpancar dari seseorang yang memiliki kebersihan dan ketulusan hati.

Salam cinta penuh kedamaian.

Minggu, 21 Desember 2014

Memilih Rasa

Kehidupan, adalah rangkaian dari berbagai macam peristiwa. Saat menjumpai setiap peristiwa, maka kita akan mendapatkan berbagai pilihan rasa, sedih, marah, kasihan, gembira, bahagia, atau biasa biasa saja. Tuhan menyediakan semua, termasuk kebebasan untuk memilih rasa. 

Mungkin saja, saat peristiwa itu terjadi didepan mata, nafsu dan ego kita berteriak lantang hingga pilihan kitapun mengikuti dia. Ego manusia selalu ingin dimenangkan, tak mau kalah, tak mau mengalah. Hingga apabila tak sesuai kehendaknya maka jalan kemarahan, kekecewaan, dan kesedihanlah yang ditempuh. Padahal, jalan ini tak pernah membawa seseorang kepada tujuan kehidupan, cenderung gelap dan menyesatkan. Bila terus menempuhnya maka seseorang itupun akan merasa sangat lelah karena tak kunjung sampai tujuan dan kehabisan energi dalam menempuhnya. Bahkan tak jarang, dalam kegelapan, dia tersandung, tersungkur, terjerembab dan terjatuh dalam lubang-lubang yang tak dapat dilihatnya. Sebaliknya, apabila ego mendapatkan apa yang diinginkannya, maka seseorang akan merasa menang, hingga teramat sangat gembira, euphoria yang menciptakan kebahagiaan semu, yang menyulut api kesombongan yang menyilaukan. Hingga akhirnya membakar diri sendiri, dan habislah semua menjadi abu kehidupan.

Ajaran bijaksana mengatakan, setiap manusia hendaknya sadar dalam setiap rasa yang hendak dipilihnya. Karena, hakikatnya kehidupan, adalah sebagai wujud penghambaan diri, pengabdian pada Sang Maha Pencipta, sehingga apapun yang didapatkan tentunya tak luput dari ijin dan kehendak-Nya. Saat mendapati apa yang diinginkan, bersyukurlah yang dalam, tak perlu sorak sorai. Dan pada saat belum berhasil bersabarlah sembari terus berusaha mengolah diri, meng-upgrade kemampuan agar menjadi layak dan mendapatkan ridha-Nya.. Dengan menyadari untuk bersabar dan bersyukur, maka kita telah memilih menempuh jalan damai, Yang berarti berdamai dengan segala keadaan yang kita terima. Damai berarti tak ada rasa yang melonjak ataupun terjerembab, semua dalam frekuensi ketenangan belaka. Karena hanya dengan ketenangan maka cahaya dari lentera hati kita takkan menjadi padam dan tak juga membakar diri kita. 

Salam cinta

Senin, 28 Juli 2014

Idul Fithri, Menggemakan Takbir Sebagai Penyatuan Diri Pada Kesadaran Ajaran Ilahi

 Sudah menjadi tradisi turun temurun perayaan Hari Raya Idul Fitri setiap 1 Syawal yang diawali dengan kumandang takbir dimana-mana. Lalu dilanjutkan pada siang harinya sholat Id dan ritual maaf memaafkan. Semarak dan indah memang karena disana biasanya sanak keluarga yang terpisah-pisah bisa berkumpul dan saling berbagi cinta dan kerinduan. 

Sekilas pandang, perayaan Idu Fitri seakan adalah perayaan kebebasan setelah sebulan sebelumnya harus mengekang semua hawa nafsu dan keinginan. Namun, benarkah demikian ajaran yang sebenarnya?
Mungkin memang bisa jadi demikian bagi sebagian orang. Namun sebagian orang merasa sedih karena harus berpisah dengan ramadhan yang syahdu dimana mereka bisa lebih khusyuk beribadah, dan bagi sebagian orang lagi dirasakan, biasa saja, karena mereka menyadari semua adalah bagian dari rutinitas penggemblengan diri, yang memang bukan untuk dilakukan terus menerus karena apapun memang harus dilakukan sesuai porsinya.
Terlihat bahwa, dalam satu peristiwa, dipahami dengan cara yang berbeda-beda.

Alangkah lebih bijaksana, apabila seiring waktu yang berjalan, kita terus menggali pemahaman yang lebih dalam mengenai ajaran Allah yang sudah diberikan kepada kita sebagai way of life. Meskipun diri kita bukanlah pendakwah ataupun ahli agama, namun sudah jelas bahwa Sang Pencipta menghendaki setiap individu agar senantiasa belajar dan menuntut ilmu.

Penggemblengan itu diawali dengan Ramadhan. Ramadhan, yang dimaksudkan Allah sebagai sarana dalam bentuk satu periode yang kondusif untuk latihan pengendalian diri dan benar-benar menyerahkan semua hasil tindakan kita sehari-hari dalam rangka pengabdian pada Allah semata. Ramadhan adalah saran purification. Karena selama ramadhan jiwa kita diharapkan dibersihkan dari segala pikiran, perasaan dan emosi negatif yang mengotori diri kita, sehingga dengan bersihnya diri kita maka ajaran Allah yang suci dan bersih akan mampu menancap dalam kesadaran ruhani. Karena yang suci takkan mau masuk ketika diri kita penuh kekotoran. Hukum alam ini gelap dan terang tak bisa menyatu. Dan akhir ramadhan adalah puncak pemurnian diri yang diwarnai dengan gema takbir dimana-mana. Alangkah indahnya apabila takbir itu menggema dalam setiap kesadaran sel-sel kemanusiaan kita, satu malam yang benar-benar powerful, penuh dengan semangat baru untuk mengujudkan ajaran Allah dalam kehidupan sehari-hari, yang diawali pada 1 Syawal.

1 Syawal dikenal sebagai Hari Idul Fithri, yang dapat dipahami lebih dalam sebagai kembali kepada fitrah (Id : kembali, Fithri : ujud kehidupan menurut hakikat penciptaannya), fitrah disini tentunya fithtratallah, fitrah dari Allah yang menciptakan manusia), jadi Idul fitri adalah kembali kepada konsep awal, yaitu hidup sesuai kehendak Allah yang dapat dipahami melalui ajaran-Nya). Hal ini bisa dibaca pada QS Ar Ruum 30. Pembahasan lebih luas tentunya akan mencakup ajaran Allah yang mencakup konsep kehidupan untuk mengujudkan khasanah fidunnya, Jannah dalam kehidupan. Disitulah nantinya dapat terjawab mengapa zakat juga terkait dengan Idul fithri ini. Karena sistem zakat sebenarnya adalah bagian yang menyatu, yaitu sistem yang merupakan penyokong secara fisik untuk mengujudkan kehidupan indah yang saling tolong menolong dalam kesadaran Ilahiah.

Sudah saatnya umat muslim untuk move on, menggali lebih dalam makna Ramadhan dan Idul Fithri. Maaf memaafkan bisa kita lakukan setiap detik kehidupan. Jadikan itu bagian dari kesadaran diri untuk kebersihan jiwa kita dalam rangka pemahaman yang lebih besar yakni kesadaran bahwa, ajaran Allah tak mungkin menyatu dengan kesadaran diri manakala diri kita penuh dengan niat buruk, pikiran dan perkataan buruk  serta  tindakan yang negatif.

Selamat menempuh satu tahun kedepan dengan penuh kesadaran dan sampai jumpa pada Ramadhan berikutnya, Biarlah keselamatan dan berkat serta rahmat Allah tercurah bagi kita semua.


Jumat, 11 Juli 2014

Kemenangan Cinta

Rembulan beranjak penuh
Pendarnya memeluk erat ibu pertiwi
Pada suatu malam
Menjelang pertengahan ramadhan
Jiwa jiwa nan bercahaya
Tepekur dalam khusyuknya pengharapan agung
Kepada Sang Maha Kuasa
Memenuhi bumi dengan cinta-NYA
Bukanlah kidung merdu
Bukanlah gita membahana
Namun bisik lirih nurani yang menggelorakan kuasa cinta-Nya
Membasuh merah durjana angkara murka
Hingga memerah jambu cinta
Terurai haru 
Bersyukur 
Bersujud
Damai

Jumat, 04 Juli 2014

Suara Setetes Air untuk Indonesiaku

" Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan mereka sendiri "

Sebuah kalimat yang datang bukan dari mulut seorang manusia, namun firman dari yang Maha Tinggi, Pencipta Alam Semesta. Tentunya itu bukanlah rangkaian kata tanpa makna, kalimat tersebut berlaku mengikat bagi semua ciptaan-Nya.

Menengok masa lalu bangsa ini, mestinya kita semua tahu, tanah air kita telah banyak merekam segala peristiwa. Negeri nan subur ini pernah menjadi bangsa yang makmur, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja. Namun selain itu jejak sejarah mencatat aneka pergolakan, pertumpahan darah, penjajahan, kemiskinan dan aneka penderitaan. Bila kita cermati, banyak sekali terjadi keonaran dan bahkan pertumpahan darah pada peralihan pemimpin pada kerajaan kerajaan di jaman dahulu kala.
Mau tak mau, tak dapat dipungkiri, semua yang telah terjadi itu mengukirkan pahatan-pahatan dalam alur sejarah. Rasanya pahatan penderitaan jauh lebih panjang daripada pahatan kebahagiaan. Derita tigaratus lima puluh tahun penjajahan rasanya belum sebanding dengan hampir tujuh puluh tahun negeri ini merdeka. Euphoria saat Bung Karno lantang memproklamasikan kemerdekaan bangsa kita, memang sempat mendidihkan semangat persatuan dan kesaatuan bangsa Indonesia. Namun itu tak lama, segera hanya terhitung tak sampai tiga dasawarsa, kembali terekam luka. Jejak jejak berdarah menjelang pergantian kekuasaan. Lalu kembali tiga dasawarsa dalam kedamaian semu, dan kembali aneka pergolakan silih berganti. Kepedihan, darah dan airmata rekaman perpecahan dan kekerasan sarat membebani masa lalu bangsa kita.

Bila satu persatu kita ditanya, tentu kita semua menjawab bahwa kita menginginkan negeri yang damai, tentram, aman dan sejahtera. Namun ironis, rasanya apa yang menjadi keinginan hanyalah sekadar keinginan. Tak berkesesuaian antara keinginan dan tindakan. Menginginkan damai, namun membiarkan ego pribadi melanggar hak orang lain. Itu yang sering terjadi. Semua ini harus diakhiri.

Sudah saatnya, bangsa ini mengubah dirinya, menjadi bangsa yang damai, bangsa yang bahagia. Tuhan sudah membebaskan kita untuk membentuk sendiri hidup kita, memberi hak untuk kita sendiri melakukan perubahan-perubahan, menciptakan hidup kita lebih baik. Bukan siapa presiden kita, sehingga kita bisa menjadi bangsa yang hebat, namun upaya dan kesadaran dari masing masing kita lah yang akan menghebatkan bangsa ini. Berawal dari mengubah masing masing diri menjadi lebih baik. Budi pekerti luhur itu masih ada bila kita mau menggali lagi, marilah. Kembali pada agama masing-masing namun bukan untuk menjadi terkotak kotak dan saling bergesekan, biarlah agama menjadi satu satunya ikatan, bahwa kita meniatkan hidup ini adalah pengabdian, salurat berkat dari Tuhan untuk kebahagiaan seluruh alam.

Meskipun ini hanyalah terdengar selintas lalu sebagai bunyi setetes air nun jauh dalam gua di bawah tanah, namun aku tetap berharap, suara setetes air ini menggema dan suatu saat mewujud seiring harapan semesta raya.

Salam cinta untuk Indonesia yang damai dan berbahagia

Senin, 23 Juni 2014

Ketukan Kesunyian

Tanpa mengetuk pintu, tiba-tiba sekelumit gelisah mengusik diamku. Terbersit sendu sebuah perpisahan. Bayang kehangatan canda, ketulusan dalam setiap senyuman yang harus direlakan tuk ditinggalkan. Berontak dalam keheningan. Akankan sepi? Jalanan sunyi terasa membentang menunggu dilewati. 

Tak lama. Tak kubiarkan rasa merajalela, merenggut damai. Tak ingin damai yang kubangun sekian lama terkoyak sia-sia. Aku pulang dengan diam. Bertanya pada Sang Pemilik Kesunyian. "Haruskah ini direnggut dari hidupku? Haruskah keindahan ini berakhir sedemikian cepatnya?"

Sunyi tetaplah sunyi, tanpa suara. Namun dalam sunyi ada jawaban, nun di dalam sana. Perlahan, aku mencoba menghampar pemahaman.

"Ketakutan akan kesendirian adalah suara keterikatan, keinginan memang selalu berteriak lantang mengharapkan kenyamanan, bermalas malasan. Seharusnya kau paham, bahwa kesedihan hanya terjadi karena masih terikat pada ego yang dibiarkan membelenggu, maka lepaskan belenggu itu, agar ringan langkah ke depan. Serahkan semua kehidupan pada Sang Maha Kuasa, maka tak ada alasan untuk merasakan apalagi mengatakan kesedihan ketika harus meninggalkan tempat dimana diri merasa nyaman. Semua tempat adalah milik Sang Pemilik Kehidupan. Semua tempat adalah wahana untuk bekerja dengan giat sebagai pengabdian pada Sang Pemilik Kehidupan. Semua tempat adalah ladang tempat menanam dengan penuh ketulusan, dan menyerahkan semua hasil panen pada Sang Pemilik Kehidupan. Seluruh daratan di sepenjuru muka bumi adalah sajadah tempat bersujud menyerahkan sepenuh kehidupan. "

Dengan memahami hakikat hidup adalah pengabdian, pelayanan dan berserah dengan segenap kerelaan dan keikhlasan dimanapun tempat, maka seharusnya diriku senantiasa berbahagia dimanapun jiwa ini berkarya. Karena yang membuat satu jiwa menjadi berharga bukanlah seberapa hebat keinginannya mampu diwujudkan, namun seberapa hebat ia mampu menundukkan keinginannya dan berserah pada kehendak Tuhan.

Perlahan, belenggu kesedihanpun mulai merenggang, diriku terbebas, tersenyum lepas dan berbahagia. Kidung malam kembali terdengar indah menemani kesunyian, karena dalam sunyi aku tahu, aku tak pernah sendiri. Terimakasih Tuhan. 

Sabtu, 31 Mei 2014

1 Juni dalam Do'a Pagi

Ingatkah? Hari itu mata tak juga terpejam, masih memilah kata demi kata hingga menjadi baris baris kalimat yang jauh lebih kokoh dari barisan bebatuan. Demi apa? Demi sebuah jati diri bagi bangsa ini.

Ingatkah? Rasanya tidak. Nampaknya hanya beberapa gelintir yang ingat dan masih memahaminya, berjuta juta yang lain, bahkan nyaris hanya mengenalnya sebagai hiasan di dinding sekolah mereka dulu. 

Hari ini fajar pertama, tanggal yang sama dengan saat ketika dia sang perumus meletakkan fondasi bangsa. Fondasi itu masih ada, meski sedikit dimakan rayap kekotoran nafsu kemarahan, kekuasaan, keserakahan, hingga menggoyahkan bangunan bangsa ini. Alangkah sedihnya melihat mereka masih juga tertidur dari kesadarannya. 

Hei pagi telah menjadi riuh!! Fajar telah menyingsing, fajar pertama, tanggal yang sama dengan saat ketika dia, sang perumus meletakkan fondasi bangsa. Ayo kita berbenah, bersihkan semua. 
Jangan menjadi rayap untuk rumahmu sendiri !! 

Sayup terdengar do'a di awal pagi, "Oh, Tuhanku, mohon ijinkan, biarlah di hari ini semua menjadi ingat dan memahami kembali, filosofi indah bangsa di tanah surga ini. Kembali pada pelukan ibu pertiwi dan menjadikan diri kami sebagai abdi abdi-Mu, yang menyerahkan seluruh hidup untuk-Mu dan berpasrah segala harap hanya pada-Mu. Biarlah para pemimpin kami mampu memimpin dengan kebijaksanaan dan bangsa kami mampu untuk saling mencintai, saling tenggang rasa dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.."


" ...di timur matahari mulai bercahya
bangun dan berdiri kawan semua
marilah mengatur barisan kita
pemuda pemudi Indonesia..."




Senin, 26 Mei 2014

Shalat Berkesadaran ( Satu Kritik untuk Diri Sendiri )

Malam ini, seribu tigaratus sekian tahun yang lalu, umat muslim mengenal dengan peristiwa Isra' Mi'raj, yaitu satu perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam untuk menerima perintah Ilahi. Karena sudah lewat melampaui 13 abad lebih, maka kejadian itu dipahami dalam berbagai versi. 

Terlepas dari berbagai pendapat para ahli agama, disini saya sebagai bukan ahli agama, namun saya berusaha memahami agama semampu saya (boleh dibenarkan bila salah :-) ). Buat saya, yang pasti pada saat Isra' Mi'raj itulah Allah memerintahkan kepada Muhammad agar pengikutnya melaksanakan shalat. Shalat yang dimaksud adalah untuk sarana pembersihan diri, lalu menancapkan kesadaran ilahiah kedalam ruh kita, agar nantinya manusia ini menjadi manusia yang sebenar benar manusia, yang terhindar dari perbuatan/dan berbuat keji dan munkar/buruk. 

Namun berjalannya waktu pemahaman yang terjadi tentang shalat inipun menjadi bertingkat tingkat, mulai dari tingkatan shalat sebagai ritual wajib yang dilakukan lebih dikarenakan ketakutan akan "hukuman" bila tidak melaksanakannya, dan pamrih agar bila melaksanakan nanti mendapatkan "sesuatu" yang menyenangkan. Biasanya yang begini, dia melakukan shalat sekadar gerakan dan hafalan bacaan tanpa memahami artinya. Dan shalat dalam tingkatan tertinggi adalah sebagai pembinaan diri, shalat khusyuk, shalat yang benar benar berkesadaran, memahami apapun do'a yang diucapkan dan menanamkan kesadaran hingga ke seluruh sel sel tubuhnya. Tidak ada yang salah dengan berbagai tingkatan itu, karena semua memang menjalani sesuai dengan pemahaman yang dicapainya. Namun tentu saja nantinya "imbalan" yang didapat juga akan sesuai dengan tingkat pemahamannya. (menurut logika saya)

Yang menjadi masalah adalah salah kaprah di masyarakat, ketika seseorang yang rajin melakukan "shalat" lalu berbuat dzalim, atau orang tersebut terus menerus ditimpa kemalangan, terkadang dengan mudah orang menuding dengan, "halah percuma shalat jengkang jengking, tetap aja begitu." seakan akan shalat itu tidak ada fungsinya. Padahal bila mau kita cermati lebih dalam, pasti ada yang belum pas dengan shalatnya.  Karena tidak mungkin Allah, yang mampu menciptakan alam semesta dengan begitu agung, yang mampu menciptakan sel sel tubuh dan organ dengan begitu cermat, bisa salah membuat metode shalat, iya kan? Justru seharusnya, bila shalatnya benar maka hidupnya pasti akan benar, karena kesadaran sel selnya terbangun dari do'a do'a yang dipanjatkan sepanjang waktu. 

Marilah, Allah sudah memberikan methode-Nya, membuka saluran pribadi-NYA untuk membuat kita bisa terhubung, mengakses channel-NYA, ini adalah sesuatu yang sangat berharga yang seharusnya sangat disyukuri setiap yang mengikrarkan diri sebagai ummat Muhammad. 

Sekedar berbagi dan mengenali peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad lalu mensyukuri atas apapun karunia Allah untuk kita. Dan kebenaran adalah milik Allah semata. 
Assalamu'alaykum Warakhmatullaah Wabarakatuh.

Senin, 05 Mei 2014

Senyuman Embun Pagi

Antara malam dan siang, terselip keindahan pagi yang seringkali terlewat begitu saja. Beruntungnya jiwaku, menemukan seorang Guru yang mengingatkan tentang berharganya waktu. "Pagi hari merupakan saat kita menyusun rencana kerja harian kita dengan lebih terarah dan setelah kiya menyusunnya, kitapun mempersembahkan rencana kerja kita kepada Tuhan untuk mendapat berkat dan rahmat Tuhan sehingga semua dapat berjalan dengan lancar." Dan pagi inipun dengan segenap kesadaran, aku ikhlas membuka mata pada pagi yang masih gulita, bersyukur dan mempersembahkan sepanjang hari ini untuk berkarya dan mengabdikan hidupku sepenuhnya untuk Sang Maha Pencipta. 

Subuh hari ini terasa nikmatNya begitu agung, meski disini telingaku tak mampu menangkap lantang gema adzan, namun panggilanNya menggema dalam semestaku. Menyentuh kilau beningnya air wudhu pagi, menggugah sepenuh kesadaran. Menghampar sajadah bersiap pada satu pertemuan indah. Tak ingin kuberanjak dari sujud pagi ku, meresapi semua makna cinta dalam firman firmanNya. 

Lewat kata dalam do'a menyentuh lembut jiwa jiwa,  berkirim shalawat dan salam, bersenandung harap segala kebaikan memenuhi sepanjang hari kedepan. Mensyukuri keindahan pagi, titik titik embun, merekahnya mentari pagi, kokok ayam dan kicuan burung, alam semesta berbahagia bersama pagiku hari ini.

Sungguh beruntungnya jiwa ini, manakala membuka mata dan menemukan Sang Pencipta sebagai satu satunya yang pertama kali harus disapa dan dtemuinya. Gerbang hari ini pun terbuka dan tersenyum ramah menyambut kita dengan penuh cinta. 

Aku beranjak dan menggenapkan bangun pagiku dengan seduhan secangkir kopi panas. Alangkah indahnya!